Arsip

Archive for the ‘Kumpulan Puisi’ Category

SEUNTAI RINDU DALAM KALBU

SEUNTAI RINDU DALAM KALBU

 

Malam telah menuntunku pada saat dimana aku harus menghitung untaian rinduku padamu.

Seuntai rindu, yang tak kan mampu di ungkapkan lewat satu atau dua kata, bahkan ratusan kata.

Ditengah gelap gulitanya malam, selalu kunyanyikan untaian rinduku padamu lewat syair dan lagu yang aku sendiri tak tahu apa bisa terbayar untaian rinduku lewat itu.

Kadang kubayangkan kau hadir membawa lembaran-lembaran rinduku yang pernah ku serahkan padamu, lain hari lain waktu sebelum rinduku hari ini dan waktu ini.

 

Malam telah membawaku pada saat dimana aku harus terdiam memikirkan rinduku padamu.

Seuntai rindu, yang aku tak tahu kapan bias terungkap. Baca selengkapnya…

SEORANG AKU

 

SEORANG AKU

 

Dahulu masih terasa betapa hitamnya dunia ini bagi seorang aku

Ketika begitu banyak cinta yang dimiliki dan rindu yang ada

Namun tak ada jiwa yang mau akan cinta dan rindu itu

 

Dahulu masih terasa betapa hinanya diri bagi seorang aku

Ketika beranjak seorang kaum Hawa dari pelukan seorang kaum Adam

Yang tak tahu akan kemana perginya dia, tanpa ada kata tanpa ada jumpa

 

Dan,

Dahulu masih terasa kelam kehidupan seorang aku Baca selengkapnya…

MAAF UNTUK HARI INI

Maaf

 

MAAF UNTUK HARI INI

 

Pernah aku bersumpah pada diri sendiri dan pada Tuhan

Bahwa tak akan ada kecewa yang ku perbuat

Dan tak akan ada khilaf yang terlintas walau sejenak

 

Pernah ada janji pada diri sendiri dan pada hari yang beranjak pergi

Bahwa tak akan ada dusta yang terkata

Dan tak akan ada resah yang salah

 

Kini, Baca selengkapnya…

SEGENGGAM CINTA UNTUK SANG BUNDA SETUMPUK RINDU UNTUK AYAHANDAKU

858949_10151341344033721_2127976618_o

 

 

 

 

 

 

SEGENGGAM CINTA UNTUK SANG BUNDA

SETUMPUK RINDU UNTUK AYAHANDAKU

 

 

Malam kadang membawaku pada pengalaman baru

Sejuta cinta, beribu rindu

Yang selalu membuatku menunggu akan hari itu

Hari dimana aku bisa membuat hal baru yang ku mau

Tapi

Apa yang terjadi padaku malam itu

Tak bisa menandingi

Segenggam cinta dari mu bunda

Dan setumpuk rindu dari mu ayahandaku

 

Lagi, Baca selengkapnya…

KALAU DEMIKIAN, TERIMA KASIH

b4d55-senja1

Terima kasih atas balasan surat yang engkau terakan untukku Jika memang itu isi hatimu seperti yang engkau wartakan, mungkin aku akan dapat bisa memahami panggilan jiwamu, yakni; Bersabar.

Tapi bila yang engkau terakan tidak sesuai dengan panggilan sanubarimu, itu adalah sebuah pengkhianatan atas jiwa raga; baik aku untukku, juga sekaliannya engkau. Sebab dengan begitu, Tuhan juga enggan menimbang baik untukmu kerana seratan yang engkau torehkan hanya sebuah kamuflase dan bayangan lentera Cina yang kurang mempesona, dan pesakitan atas aku jadi semakin kuat parahnya. Baca selengkapnya…

Aku, Kamu, Dia, dan Kenangan Indah (Cerita di Ujung Senja II)

AKU, KAMU, DIA, DAN KENANGAN INDAH

(CERITA DI UJUNG SENJA II)

Hari belumlah siang, senyum sang mentari baru sepenggalah menghangatkan lapangan tempat dimana seluruh siswa berdiri dibawah selembar kain berwarna merah dan putih, yang menjadi satu kesatuan utuh, dan kibarannya sebagai bukti bahwa negeri ini sudah meredeka, katanya. Senyum sang mentari yang menjadi saksi dimana tujuh hari yang lalu, sang guru pergi bersama beberapa kenangan manis yang pernah ada. Kenangan manis yang masih terbayang, kata-kata manis yang masih terngiang, dan senyum manis yang masih terlihat dengan jelas, walau hanya sebatas bayang. Senyum yang tujuh hari yang lalu masih ada dan meramaikan suasana ruang kelas dilantai dua, diujung lorong tiga ruang dari ruang guru, dengan tembok berwarna abu-abu, ruang kelas berukuran empat kali empat meter, dimana dindingnya yang abu-abu ramai dengan gambar pahlawan dan beberapa karya tangan siswa dikelas itu. Dan satu hal yang menambah sunyi ruang kelas itu hari ini, karena di dinding bagian depan kelas persis di belakang meja guru, ada tambahan gambar disana, tambahan gambar yang bila melihatnya kenangan manis dan suara canda penuh makna kembali terngiang, ya gambar sang guru idealis yang selalu narsis, namun Baca selengkapnya…

TANPA HARUS MENGULANG LUKA

Maret 27, 2013 1 komentar

Gambar

TANPA HARUS MENGULANG LUKA

Mentari pagi telah menyinari dan mengiringi perjalananku. Menembus embun, mengurai kalbu. Ku tahu semalam ada setitik kabar darimu, namun, engganku untuk mengulang luka dalam kalbu, menjadikanku iblis berkedok manusia penuh palsu.

Memang, kuakui rasa yang dulu pernah ada, hingga hari inipun ada, walau tak sebesar ketika kau dan aku ada pada suatu masa dan rasa yang sama. Hanya, ke engganan ku untuk mengulang luka, menjadikanku teriakan tanpa suara dan perjalanan tanpa asa.

Keadaan ini tidak pernah ku minta pada DIA, Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala. Walau sepengetahuanku, kau yang memeulai agar keadaan ini ada padaku,namun aku yakin bahwa DIA punya cara agar aku tertawa, dan bisa mendapatkan bahagia yang lebih baik dariapada ketika kau dan aku bersama, tanpa harus mengulang luka yang pernah ada.

Demi masa dan luka yang pernah ada, perjalananku mungkin akan berakhir. Untuk satu masa dan satu asa, yang berpegang pada rasa. Dan, bilapun memenag berakhir sekarang, saat ini, maka aku akan bahagia untuk asa dan rasa yang pernah ada, tanpa harus mengulang luka.

 

Bekasi, 26 Maret 2013; J. Supratman

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.780 pengikut lainnya.