Arsip

Archive for the ‘Kumpulan Puisi’ Category

Aku, Kamu, Dia, dan Kenangan Indah (Cerita di Ujung Senja II)

AKU, KAMU, DIA, DAN KENANGAN INDAH

(CERITA DI UJUNG SENJA II)

Hari belumlah siang, senyum sang mentari baru sepenggalah menghangatkan lapangan tempat dimana seluruh siswa berdiri dibawah selembar kain berwarna merah dan putih, yang menjadi satu kesatuan utuh, dan kibarannya sebagai bukti bahwa negeri ini sudah meredeka, katanya. Senyum sang mentari yang menjadi saksi dimana tujuh hari yang lalu, sang guru pergi bersama beberapa kenangan manis yang pernah ada. Kenangan manis yang masih terbayang, kata-kata manis yang masih terngiang, dan senyum manis yang masih terlihat dengan jelas, walau hanya sebatas bayang. Senyum yang tujuh hari yang lalu masih ada dan meramaikan suasana ruang kelas dilantai dua, diujung lorong tiga ruang dari ruang guru, dengan tembok berwarna abu-abu, ruang kelas berukuran empat kali empat meter, dimana dindingnya yang abu-abu ramai dengan gambar pahlawan dan beberapa karya tangan siswa dikelas itu. Dan satu hal yang menambah sunyi ruang kelas itu hari ini, karena di dinding bagian depan kelas persis di belakang meja guru, ada tambahan gambar disana, tambahan gambar yang bila melihatnya kenangan manis dan suara canda penuh makna kembali terngiang, ya gambar sang guru idealis yang selalu narsis, namun Baca selengkapnya…

TANPA HARUS MENGULANG LUKA

Maret 27, 2013 1 komentar

Gambar

TANPA HARUS MENGULANG LUKA

Mentari pagi telah menyinari dan mengiringi perjalananku. Menembus embun, mengurai kalbu. Ku tahu semalam ada setitik kabar darimu, namun, engganku untuk mengulang luka dalam kalbu, menjadikanku iblis berkedok manusia penuh palsu.

Memang, kuakui rasa yang dulu pernah ada, hingga hari inipun ada, walau tak sebesar ketika kau dan aku ada pada suatu masa dan rasa yang sama. Hanya, ke engganan ku untuk mengulang luka, menjadikanku teriakan tanpa suara dan perjalanan tanpa asa.

Keadaan ini tidak pernah ku minta pada DIA, Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala. Walau sepengetahuanku, kau yang memeulai agar keadaan ini ada padaku,namun aku yakin bahwa DIA punya cara agar aku tertawa, dan bisa mendapatkan bahagia yang lebih baik dariapada ketika kau dan aku bersama, tanpa harus mengulang luka yang pernah ada.

Demi masa dan luka yang pernah ada, perjalananku mungkin akan berakhir. Untuk satu masa dan satu asa, yang berpegang pada rasa. Dan, bilapun memenag berakhir sekarang, saat ini, maka aku akan bahagia untuk asa dan rasa yang pernah ada, tanpa harus mengulang luka.

 

Bekasi, 26 Maret 2013; J. Supratman

PAGI UNTUK SANG BUNDA

 

Pagi ini, saat lantunan ayat-ayat Al-Qur’an masih terngiang dari kejauhan, saat lantangnya sang jantan membangunkan fajar, dan saat alunan lirih music terdengar disebuah gubuk berbalut kasih, terlihat seraut wajah penuh harap dalam tidurnya, penuh lelah dalam peluhnya, dan masih dengan banyak kasih sayang dan cinta untuk anak-anaknya. Tak ada yang bisa menandingi segala kerja keras dan apa yang dia lakukan untuk anak-anaknya. Pagi dia berikan untuk anak-anaknya, siang dia persembahkan untuk anak-anaknya, dan malam dia berikan, untuk anak-anaknya, sedangkan dia sendiri, hanya ingin satu hal, kebahagiaan yang dirasakan oleh anak-anaknya, itu saja.

Ada semacam kekhawatiran yang seorang aku pikirkan. Kekhawatiran yang begitu mendalam, kehawatiran yang apakah bisa dihilangkan. Yaa, seorang aku terlalu khawatir “Apakah bisa mewujudkan harapan seraut wajah penuh harap dalam tidurnya, mewujudkan harap dari seorang Ibu.”

Masih teringat Ibu dengan segala kasih sayang dan cintanya membawa seorang aku selama Sembilan bulan dalam kandungannya. Berat, sesak, bahkan diam tanpa gerak, tapi itu beliau lakukan tanpa adanya keluh kesah dan tanpa adanya kata tak pantas. Dengan mengorbankan segala yang dia punya, termasuk jiwa raganya, dia pertaruhkan untuk membawa seorang aku melihat dunia yang lebih luas dan lebih kejam, dengan harapan “Semoga seorang aku bisa lebih baik darinya, dari sang Ibu.” Dan ketika kita terlahir melihat dunia nyata yang penuh dengan segala halangan dan rintangan, sang Ibu dengan segala kekuatan dan keahlian yang dia miliki, mempertahankan seorang aku dari segala ancaman yang ada. Ddan kini, ketika seorang aku beranjak dewasa, perlindungan, kasih sayang, cinta dan segala yang dia punya, tidak berhenti walau sesaat, untuk seorang aku.

Hingga ketika malam beranjak datang, dalam lelahnya, masih dengan peluh yang ada di pelipis-pelipis wajahnya dan masih dengan nafas yang sesaat agak lambat, dibaringkannya seorang aku dipangkuannya, dibelainya kepala seorang aku dengan lembut. Tak ada kebahagiaan lain yang bisa disandingkan dengan itu semua ketika seorang aku berada dalam pangkuan sang Ibu. Beliau-pun berkata, “Untuk bisa menjadi pahlawan, Baca selengkapnya…

Imajinasi 42

ANTARA EMBUN SETELAH FAJAR DAN PELUH DALAM MAKNA

Bagai titik-titik embun setelah fajar

Peluhku membasahi raga, menggenangi seluruh sukma

Siapa yang dapat menyangka

Embun setelah fajar, yang penuh perjuangan

Melewati gelapnya malam

Harus menghilang dipagi hari

Saat sang surya memanasi bumi Sang Penguasa Alam

Dan,

Siapa yang dapat mengira

Peluh yang lahir dari perjuangan

Akan kepedulian, kesabaran, kasih sayang, dan cinta

Harus menghilang dibalut lembaran-lembaran tipis, kasih dari makhluk lain.

Biarlah,

Segala titik-titik itu memudar

Bersama memudarnya bias sang surya dipagi yang penuh makna

Agar tiada dusta dalam kata

Untuk kedua kalinya. Baca selengkapnya…

SEUNTAI RINDU DALAM KALBU

Malam telah menuntunku pada saat dimana aku harus menghitung untaian rinduku padamu.

Seuntai rindu, yang tak kan mampu di ungkapkan lewat satu atau dua kata, bahkan ratusan kata.

Ditengah gelap gulitanya malam, selalu kunyanyikan untaian rinduku padamu lewat syair dan lagu yang aku sendiri tak tahu apa bisa terbayar untaian rinduku lewat itu.

Kadang kubayangkan kau hadir membawa lembaran-lembaran rinduku yang pernah ku serahkan padamu, lain hari lain waktu sebelum rinduku hari ini dan waktu ini.

 

Malam telah membawaku pada saat dimana aku harus terdiam memikirkan rinduku padamu.

Seuntai rindu, yang aku tak tahu kapan bias terungkap.

Bukan lewat satu atau dua kata, bahkan ratusan kata, melainkan lewat bersuanya aku dan kamu dalam satu waktu.

Di hadapan sebatang lilin, kembali kunyanyikan untaian rinduku yang penuh dengan alunan kasih padamu. Baca selengkapnya…

Imajinasi 41

Januari 29, 2012 1 komentar

TULISAN BUAT DIA    

Duduk aku disini

Diatas kursi dari kayu

Pena kupegang ditangan kanan

Dan kertas putih diatas meja

 

Pikiranku menerawang

Terbang jauh dan menghilang

Kapan kembali ? ku tak tahu

Hanya badan menunggu disini

 

Jarum jam bergerak dan berdetak

Membawa pulang angan yang menerawang

Kembali membawa imajinasi

Dari perjalanan yang dilalui

Ditangan kanan masih ada pena

Dan kertas putih masih ada dimeja

Kutulis imajinasi yang dibawa

Buat dia seorang dara

 

 

Bekasi, 5 Juni 2004

J. Suprtman

Imajinasi 40

YANG BAHAGIA

 

Hadir didepan mata

Terlihat wajah tanpa dosa

Senyum, tertawa dan canda

Menghiasa raut yang bahagia

 

Berjalan mendekatiku

Terdengar langkah tanpa suara

Sunyi, senyap, terasa lelap

Membawa jiwa yang bahagia

 

……………………………………………..

 

 

Bekasi, 5 Juni 2004

J. Supratman

Imajinasi 39

BERKACA AKU

 

………………………………………………..

 

“ berkaca aku pada malam buta

 

wajah terlihat penu luka

 

hilang bahagia tinggalah duka

 

berharap ajal cepat tiba“

 

………………………………………………..

 

J. Supratman

Imajinasi 38

SIRNA

sempat terpikir dalam benakku

mengenal bait dalam sajak

ingin memetik kata-kata bijak

dari sajak yang tergeletak

namun, kertas terbakar api

menyala, hangus dan

hilang

 

kadang terucap disisi mulut

mencari intan dalam laut

ingin berlayar dan melaut

pergi dari tanah yang berlumut Baca selengkapnya…

Imajinasi 37

Melati

SATU BAIT

Baris pertama kutulis

diatas kertas yang lusuh

Sambil menulis bibir berkata :

“Ini awal hidupku, yang

harus kumulai dengan senyum“

 

Baris kedua kutulis

masih kutulis dikertas tadi

Sambil menulis kembali berkata :

“Perjalananku akan dimulai,

aku harus berdiri dan melangkah“

 

Kembali tergores ’tuk baris ketiga

dalam kertas yang lusuh

Dalam menulis aku berucap : Baca selengkapnya…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 3.335 pengikut lainnya.