SEPANJANG 2×20 KILOMETER BERSAMA KEPERKASAAN DARI LANGIT

……..masih terbayang dan terdengar alunan syair sebuah band fenomenal dari bandung, peterpan

“Hari yang cerah untuk jiwa yang sepi

Begitu terang untuk cinta yang mati”

kalau baris kedua dari syair tersebut, tidak terlalu kuhiraukan, karena cintaku tidak mati, mungkin hanya kecapean sehingga tertidur. tapi baris pertama dari syair itu menggambarkan apa yang terhadi hari ini, ya… hari ini begitu cerah. pagi di sebuah desa pinggir kota ternyata seperti sebuah desa didaerah pegunungan, masih begitu sejuk udaranya, tanpa adanya polusi pagi ini. walau sebenernya siang di sini berbeda 180′ dari pagi ini. tapi tak apalah, yang penting pagi hari ini cerah, karena bisa untuk menyemangati seluruh manusia di daerah ku untuk semangat.

waktupun berjalan seperti biasa, seperti hari-hari kemarin yang aku lalui. masih terlalu padat dan sibuk dengan ujian-ujian yang aneh pada tempat kerjaku, dan selingan-selingan canda sesama petugas dan karyawan ditempat kerjaku. kesibukan ini yang terkadang membuat kami menghitung-hitung, “apa imbalan yang kami dapatkan dari pelaksanana tugas kami yang berat ini?. apakah sebanding imbalan yang kami terima dengan keringat dan peluh yang kami keluarkan?”

tapi biarlah, mudah-mudahan pembagian imbalan yang kami terima, sebanding dengan apa yang kami terima. walau sebenernya, adil itu tidak harus merata, melainkan adil adalah ke-proporsional-an.

sudahlah, mungkin tak usah kita bahas lebih jauh tentang sebuah keadilan, karena bagaimana mungkin kita mencari keadilan, pada diri sendiri aja kita terkadang tidak adil. so, mulai adil pada diri sendiri, ternyata bisa untuk membangkitkan keadilan sama orang lain.

apa yang kita harapkan ternyata tak selalu menjadi nyata. kenyataan yang ada ternyata tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. pagi hari ini langit menunjukan senyum indah bersama sang mentari, hingga desaku pun seperti desa daerah pegunungan yang sejuk dan segar. tapi, ketika sore tiba, langit pun menunjukan keperkeasaan-NYA.

“glugur….”, suara guntur memecah konsentrasiku mengerjakan soal Ujian Akuntnasi Keuangan Lanjutan.

disusul komentar pengawas untuk suasana ini, yang membuat kami harus bersegera pulang, “ayo segera dikumpulkan, bukan hanya bel yang berbunyi, tapi geluduk udah bunyi tanda berakhirnya ujian”.

sebenernya sedikit ingin ketawa, karena dosen pengawsa yang cukup killer, bisa melucu juga segala bilang, geluduk pertanda berakhirnya ujian, dosen yang aneh.

tapi tak apalah, aku sudahi dan aku akhiri pengerjaan soalku, karena memang aku sudah blank sama sekali tentang soal ujian, sehingga walau lembar jawabanku sudah penuh tapi sebernya nomor terkhir belum selesai.

“pak saya sudah selesai, dan ini tugas saya gabung bersama lembar jawaban, karena harus dikumpulkan sama dosen mata kuliahnya”.

“sudah di streples kok”

“saya duluan pak”, ku akhiri pembicaraan malam itu bersama pengawas.

“hati-hati pulangnya, sudah mulai mendung”, jawabnya.

sepeda motor ku pun ku keluarkan dari area parkir kampus, ku nyalakan stater, kutarik gas, melajulah dia menembus belahan malam yang dingin membawaku pulang. pikiranku mulai menerawang jauh pada saat berhenti di salah satu lampu merah paling padat di kota ku, “apakah hujan malam ini akan banyak, sedangkan siang tadi pagi begitu cerah?”

lampu hijau menyala, dan kutarik kembali tuas gas pada bebek matic-ku. perjalananku pun mulai berubah menjadi mencekam, ketika suara guntur mulai sahut-sahutan dari empat arah penjuru mata angin.

“yaa Allah, lindungilah aku setiap saat, dari segala yang buruk, Amin”, aku pun berdo’a dalam perjalanan malam itu.

satu-dua-tiga blok dan daerah penting telah ku lalui setelah keluar dari kampus. dan ketika ku memasuki blok ke-empat dan jarak ke desaku yang pagi tadi cerah masih sekitar 2×20 kilometer lagi, sebuah kilatan hebat melintas di atas kepalaku, di susul bunyi guntur dan, langitpun kembali menujukan keperkasaan-NYA, dan atas kuasa-NYA, langit menumpahkan segala sedih dan airmata yang selama dua hari ini tidak dia luapkan. hujan yang sangat deras-pun turun, sehingga, kupakai jas hujan yang ada dibawah jok si matic-ku.

sekali lagi, apa yang kita pikirkan ternyata belum tentu sama dengan apa yang terjadi sebenernya. aku berpikir bahwa hujan kali ini tidak akan lama, karena awalnya sudah deras, jadi mungkin air dari atas jatuhnya cepat sehingga persediaan diatas akan cepat berkurang. yaa, itulah pikiran aneh seorang pemuda yang habis ujian dan lelah dengan kerjaan, sehingga apa yang dipirkan jauh dari apa yang terjadi.

sepanjang 2×20 kilometer kulalui bersama matic-ku dalam guyuran hujan yang sangat deras dan tiada henti. aku percaya dalam setiap kejadian ada hikmah yang terkandung. dalam perjalanan kali ini, setidaknya aku tahu bahwa dalam hujan yang begitu deras aku wajib bersyukur tehadap Allah SWT., karena walau saat hujan aku hanya berdua bersama matic-ku, setidaknya aku belih beruntung dibanding orang lain. aku terus menerobos hujan yang sangat deras menggunakan jas hujan, tapi banyak orang diluar sana di sepanjang jalan yang kulalui, mereka berteduh di bawah pohon dan di halte kendaraan umum, mungkin karena tidak memiliki jas hujan, sehingga perjalan mereka harus mereka tunda, padahal, keluarga mereka dirumah sudah menunggu mereka dan waktu saat hujan sudah hampir pukul 21.00, dimana anak-anak mereka dan orang tua mereka banyak yang mengkhawatirkan mereka, layaknya seprti orang tuaku di rumah. dan setidaknya aku lebih beruntung dalam perjalanan 2×20 kilometer ini.

perjalanan yang ku akui adalah satu dari banyak hal yang membuatku berbeda. perjalanan ini membuatku berpikir bahwa hidup ini adalah tentang bagaimana kita harus bersyukur dengan apa yang kita miliki. jangan menyia-nyiakan dengan semua yang kita miliki, karena itu semua adaalh hal terbaik pemberian dari Tuhan.

sesampainya dirumah, kurapihkan dua hal yang paling berjasa padaku malam ini, jas hujan dan pastinya my-matic. dan tak lupa, dalam ibadahku di waktu Isya ku ungkapkan rasa syukurku terhadap Allah SWT.

“Yaa Rabb, terima kasih untuk pelajaran kali ini, sepanjang 2×20 kilometer bersama keperkasaan langit-MU telah KAU  tunjukan bahwa apa yang aku miliki semua adalah pemberian terbaik dari-MU, dan sudah selayaknya kami semua bersyukur pada-MU. Amiin….”

setelah sholat ku selesai,

“kriing…”

sebuah pesan masuk dan ku ambil telepon selularku, kemudian kubuka pesan yang masuk

“Baru pulang…

Tepar…

Ju tdr yach…

“u_u”

….”

belum sempat kubalas, mataku sudah lelah hingga, dalam genggamanku, kubawa tidur selularku bersama pesan terakhir malam itu dari dia….

……………………………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s