RUJAK DAN PERSAUDARAAN

masih terbayang perjuangan dan perjalanan malam tadi, saat dimana aku harus melewati 2×20 kilometer bersama keperkasaan dari langit. kini sebuah pagi kembali layaknya syair lagu band fenomenal dari bandung, seperti hari kemarin, pagi ini kembali sang surya menampakan sinarnya dengan penuh wibawa di atas desa pinggir kota seperti desaku ini.

pagi ini sebenernya aku bangun ‘agak’ kesiangan, mungkin karena kelelahan sehabis perjuangan semalam pulang dari kampus tempatku melawan soal-soal ujian. pukul 04.30 harus kulewati masih dengan mata tertutup. tapi mau tidak mau, atau suka tidak suka, 05.15, aku harus memaksakan diri membuka mata, karena ada kewajiban sama Tuhan yang harus kulaksanakan.

selesai ibadah dan absen kepada-NYA, langsung ku kabarkan duniaku kepada orang lain dalam dunia maya. kubuka pc ringanku, ku tekan power dan ready to up-date status. dan walau badan ini belum mandi, tapi dunia maya tahu bahwa aku sudah mandi, karena ku bangun pagi dan langsung up-date status.

ternyata bila kita memasuki dunia maya, waktu akan cepat berlalu. hanya dengan teman segelas kopi dan beberapa potong kue pancong, kulihat sang waktu sudah pukul 09.30, cepat sekali sang waktu kulalui. ternyata sudah sekitar empat jam setengah kulewati bersama pc-ringanku.

“tiiit..tiiit……..”

sebuah klason sepeda motor berbunyi depan rumah orang tuaku. seorang teman yang boleh dikatakan teman sejati datang dengan wajah yang semakin segar, mengenakan seragam kesatuan kami dengan senyum khasnya dia langsung mematikan dan memarkirkan sepeda motor didepan rumah orang tuaku.

“weis….. orang jauh baru dateng, kemana aja pak..?” sebuah kalimat menyambut si idam, temanku itu. dan kaimat itu dari adim, adikku yang dari pagi juga mengarungi dunia maya dengan pc yang berbeda.

“baik…. padahal baru berapa hari gak ketemu…” idam menimpali.

diapun masuk ke kamarku yang berukuran 3×4 meter, membuka jacket kesatuan kami dan duduk di tempat kelelahanku, kasur keras dengan kayu yang sama kerasnya. karena antara kasur dan kayu, gak berbeda jauh dalam hal kekerasan bahan. mungkin kalo kayu pasti keras, tapi kalo kasur yang biasanya empuk, karena perubahan kondisi atmosfer bumi dan mungkin karena faktor usia, kasur pun menjadi keras.

“apa kabar pak, dari mana kemaren dari arah setu..?” aku memulai pembicaraan sebelum dia mulai.

“lihat dimana..?” dia menjawab.

“lah deket kelurahan, kalo gak salah sama si ‘ehem’, mana gerimis lagi, tambah hangat aja.

“haa…haa…..ha….., bisa aja. habis nge-jemput. kok saya gak lihat ya”

“mungkin saking asyiknya kali berdua. kan kalo kata orang, bila sedang berdua, orang lain gak kelihatan, dan dunia adalah milik berdua, yang lain ngontrak. bukan begitu ?. btw, dari mana aja nich..?”

“bisa aja..!!” dia pun menjawab.

“kemarin habis ikut test disalah satu tempat di jakarta, tes tdi bagian recruitment tenaga kerja. jadi sekarang  di test, kalo sudah diterima nge-test organg yang akan masuk kerja disitu.”

“macam konsultan gitu..?”

“iya. ada acara apa hari ini..? anak-anak pada gawe gak..?”

“wah tahu yach, mungkin kalo gak pada gawe, ntar juga pada ngumpul disini. emang ente mau kemana..?”

“mau nyuci motor dulu, ntar kabain yach kalo pada ngumpul..”

“okabe, okelah kalo begitu”.

dan diapun berlalu sambil menyalakan motornya. namun beberapa saat setelah idam pergi ada yang terasa aneh. oh ya, waktu sudah pukul 10.30, tapi sejak mata terbuka badanku belum terkena air, hanya tangan, kaki dan wajah saja yang tersentuh air pada saat wudhu subuh tadi.

***

11.30 sepertinya sudah beres semua, dari mulai mandi, membersihkan kendaraan opersional pribadi, kamar dan yang lainnya, so waktunya melanjutkan berselancar di dunia maya.

selang beberapa menit ku buka kembali pc-ku, beberapa motor kembali dateng dan diparkir didepan rumah orang tuaku. sama hanya seperti idam, mereka adalah teman-teman seperjuanganku. kini yang hadir, beberaap orang bernama iwak, zhames, suryana dan miftah.

“ada acara apa nich, tumben pada kumpul, gak pada gawe apa..?”

ku mulai menyapa mereka seperti itu, karena biasanya hari minggu dihajar terus untuk bekerja. padahal kalo kata sejarahwan indoensia, negara ini sudah merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, sekitar 65  taun yang lalu, tapi kenapa sampai hari ini, masih banyak pemuda dan penduduk indonesia yang masih terjajah di perusahan-perusahaan. tapi sudahlah, karena kalo diteruskan bisa berujung pada penghujatan negara ini.

“gak lah, hari ini free, kao ntar sore tahu dech” iwak mejawab.

“kalo saya mahasiwa bang, jadi minggu off” miftah menimpali.

“apalagi saya, bulan-bulan in mah off bae” suryana pun bersuara.

“nach lu gimana mes..?” kutanyakan pada zhames.

“libur donk, tapi sampai siang aja, jam 3 harus berangkat ke kawasan, temen-temen saya udah pada nungguin, mau pada maen bareng sama mesin-mesin diperusahaan” zhames menjawab.

“haaaa…..haaaaaa…..ha…” hampir semuanya pada tertawa.

“ya sama aja bodong kali, sekarang free, ntar masuk dengan alasan maen, gawe juga-juga….”

“sekarang mumpung gak lagi pada gawe, ngapain nich..?” aku bertanya.

“ngerujak aja, udah lama gak ngerujak. biar saya sama ahmad yang cari bahannya, tapi yang lain jangan keman-mana dulu. mad…mad….mad….”. iwak pun mengakhiri pembicaraan dengan memanggil seorang yang bernama ahmad, untuk mencari beberapa bahan untuk rujak.

***

beberapa sat pun berlalu. setelah iwak dan ahmad pergi mencari bahan, hanya pembicaran-pembicaraan yang gak terlalu penting yang terjadi di sini. dan memang hanya waktu-waktu tertentu saja kami membicarakan sesuatu yang serius. karena, dalam keseharian kami sudah terlalu serius, kalo pada acara libur kali ini harus serius, gak bisa. makanya cuma ngumpul, ngomongin yang gak penting, dan acara makan-makan, dan kebeneran hari in agendanya ngerujak.

sebelum kita lebih jauh menyiapkan rujak, ada beberapa hal yang harus disampaikan.

  1. bahwa kami adalah sekumpulan pemuda yang masih dalam tahap perkembangan dan dalam tahap pencarian jatidiri.
  2. kami ini para pemuda yang belum menikah, jadi jangan menganggap ngerujak karena istri kami hamil kemudian kami yang ngidam.
  3. ini adalah rutinitas sebuah perkumpulan persaudaaran, kalo dhiari yang lain bisa lebih banyak anggota yang ikut ngerujak.
  4. mumpung lagi ada yang punya duit, kalo gak ada yang punya duit, gak ada rujak yang bisa dibeli, dan….
  5. ngerujak ini adalah sebagai salah satu yang kami namakan RUJAK PERSAUDARAAN.

setelah beberapa saat dan rujakpun siap, kami memulai menyantap rujak persaudaraan ini. sambil mulai ngerujak ada anggota yang berkata “yang lain gak dikabarin..?”.

“sebentar, lanjutin aja, sy hubungi dulu idam dan awey”

ponselpun ku ambil dan mulai ku hubungi mereka berdua.

“tuuut…….tuuut…….”

“hallo assalamu’alaikum pak, kenapa?” idam pun menjawab.

“lagi dimana pak, katany tadi minta dikabarin, anak2 lagi pada ngerujak nich..?” tanyaku.

“wah ane lagi jakarta pak, maaf. salam aja wat semuanya” idam mejawab tanda ketidakikutsertaannya.

“oke, hati-hati” jawabku.

“lagi dijakarta pak mr. idam nya. tapi coba ane hub yang atunya lagi”.

“tuuut…….tuuut…….” kembali ponselku kuarahkan pada telingaku.

“tuuut…….tuuut…….”, “tuuut…….tuuut…….”

“wah gak ada jawaban, mungkin lagi tidur kali.”

“ya udin, kita lanjut aja”

acarapun dilajutkan bersama, tapi tiba-tiba hp ku berdering, dan suara itu adalah bukti adanya pesan masuk

“kriiing….”

ku buka dan pesan itu dari seorang yang bernama awey.

“Ada apa pak, td ane lg solat.”

dan kujawab dengan singkat “rujak puskom”

“kriiing…..” kembali jawaban dari awey

“Ok meluncur”

setelah sekitar 10 menit, awey pun dateng, dan kami lanjutkan ngerujak persaudaraan ini hingga petang menjelang. dan setelah ngerujak persaudaraan itu selesai dan pastinya diselingi kembali dengan pembicaraan yang gak penting, kamipun pulang kerumah masing-masing pertanda berakhirnya waktu liburan hari ini.

namun sebelum pulang, ada beberapa kalimat dari iwak yang tertuju padaku yang terkadang membuatku jadi sedikit berpikir.

“bang, kapan-kapan dibawa ya.. itung-itung kenalan sama kami”

dan dengan spontan kujawab “baru tahap perkenalan kok wak, mudah-mudahan aja bisa lancar mejalin silaturahminya”.

***

antar rujak dan persaudaraan, buat ku sendiri sepertinya gak bisa dipisahkan. karena memang rujaklah sebagai salah satu media untuk mai bisa kumpul bersama disela-sela kesibukan kami. jadi untuk mengkhiri cerita ini salam terakhir dariku adalah

“terima kasih rujak dan terima kasih untuk persaudaraan yang ada”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s