FELLING ALONE

Dua belas jam ternyata bukan waktu yang sebentar di ibukota Negara tercinta kita ini, Jakarta. Terlalu banyak hiruk pikuk dan keramaian yang menghambat jalannya sang waktu pada hari ini. Deru mesin kendaraan angkutan umum, dari mulai becak, bajaj, angkot, bus tiga perapat, motor, mobil pribadi, sampai dengan bus resmi transjakarta yang katanya akan mengurai kemacetan, ternyata sama saja. Menambah suasana hari ini semakin hitam dalam pikiranku.

Pagi ini kumulai seperti biasa, dengan membersihkan diri, dilanjutkan dengan ibadah kepada Sang Khaliq sampai dengan membereskan kamar kost ku, lalu kulanjutkan dengan sarapan untuk menambah tenaga agar ku lebih semangat dalam bekerja. Belum lagi persiapan untuk mempresentasikan tugas kuliah sore ini.  Harus betul-betul banyak persiapan tenaga. Pukul tujuh pagi kulangkahkan kaki menuju kendaraan pribadiku setiap hari, angkot. Yaa, karena memang angkotlah kendaraan pribadiku setiap hari, karena tanpa dia mungkin aku tidak dapat bertahan di tengah kejamnya Ibu Kota yang kata orang lebih kejam dari pada ibu tiri.

“Bismillahirrohmaanirrohiim…….”

Itulah sebaris kalimat yang selalu menjadi kalimat pembuka dalam setiap aktivitas yang kujalani di Ibu Kota ini. Suasana pagi ini cukup cerah, walau tidak dapat ku pungkiri, cerahnya Jakarta pagi hari tak sesegar desa tempat kutinggal pada siang maupun sore hari. Karena desa ku lebih sejuk, indah, dan segar tanpa polusi dan kemacetan yang membuat mual  perutku ini.

Aku bekerja pada salah satu kantor di bilangan Kuningan, yang kata orang adalah daerah orang-orang berdasi dan orang-orang cantik (yang biasa dibilang sekretaris-nya bos) dengan pakaian yang ketat, walau sebenarnya tidak semua orang yang bekerja di daerah itu seperti itu. Seperti aku ini, yang hanya bekerja sebagai pelayan disalah satu kantor termegah di daerah Kuningan itu. Pakaianku hanya kemeja lengan panjang, celana panjang sampai tumit dan sepatu yang tidak perlu hak terlalu tinggi, dan pastinya kerudung pada kepalaku yang kupakai sejak aku SMP kelas 2 untuk menutupi kepalaku, sampai saat ini dimana ku bekerja. Dan dalam hati kecilku sering berkata, “tak akan ku buka sampai ada pemuda yang halal bagiku untuk membukanya”.

Pekerjaan ku cukup sederhana, tiap hari aku hanya mempersiapkan segala bentuk konsumsi pagi hari (lebih tepatnya siang hari), membagikan koran dan majalah pada meja-meja bos serta sekretarisnya, dan membereskan itu semua menjelang pukul 15.00 sore hari, dan terkadang diselingi dengan pekerjaan mem fhot-copy. Itu-itu saja, sepanjang hari. Tapi, perjuanganku tidak hanya sampai pukul 15.00 saja. Perjuangan sebenarnya adalah setelah itu. Ditengah kemacetan ibu kota dan panasnya langit kota Jakarta, aku harus melanjutkan pendidikan yang setelah lulus sekolah menengah kejuruan, belum sempat ku ambil. Biasalah, karena kehidupanku awalnya di daerah pedesaan, jadi pendidikan tinggi adalah sesuatu yang mahal, apalagi aku ini adalah seorang perempuan. Menurut nenek moyangku dahulu, “tak perlu lah anak perempuan sekolah tinggi-tinggi, akhirnya juga akan berada didapur”. Tapi, aku akan buktikan pada orang didaerahku bahwa aku bisa mematahkan apa yang dibilang sama nenek moyangku.

Aku adalah mahasiswi Strata I semester II, pada salah satu Kampus Terkenal di ibukota ini, yang kata orang adalah Kampus anak-anak Reformasi. Tapi aku tak terlalu memikirkan hal itu, karena yang aku lakukan adalah berjuang ditengahnya badai ibukota dan ketidakadilan bangsa ini, untuk lulus Strata I ku dan pulang dengan gelar dan pekerjaan yang lebih layak. Kejar-kejaran dengan waktu pun sering kulakukan, karena hari ini mungkin seperti dua minggu yang lalu, para pejabat gedung kantorku bekerja, pulangnya lebih sore, jadi aku membereskan meja-meja mereka lebih sore dari pada jadwal biasanya. Memang hal ini jarang terjadi, tapi sudah kuantisipasi, yaa dengan kejar-kejaran seperti pembalap motoGP dan Formula 1, agar aku tidak datang terlambat di kampus. Dan aku menyadari bahwa ada dua kemungkinan kenapa para pejabat itu pulang lebih sore. Pertama, mereka terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka, karena mengerjakannya tidak dicicil, sehingga menumpuk, sedangkan deadline sepertinya didepan mata, karena terkadang ada yang sampai lembur. Kedua, munkgin karena kondisi dirumah lebih panas dibanding di kantor, jadi kalo pulang agak sore bias mencari tempat yang agak dingin.

“Kelompok berapa sekarang yang maju untuk presentasi materi kali ini…?” dosen bertanya kepada mahasiswa dari ruangan paling ujung di koridor satu.

“Bisa pending lima belas menit lagi gak pak, soalnya ketua kelompok kami belum sampai.?” Salah satu mahasiswa meminta tawaran kepada sang dosen.

Belum sempet dosen menjawab tawaran mahasiswa, “Selamat sore pak. Maaf terlambat lagi, tapi …..”.

“Kenapa kamu selalu terlambat? Bukankah saya sudah bilang bahwa pada mata kuliah saya, tidak boleh ada yang terlambat. Dan kamu kalo saya perhatikan ini sudah yang ketiga kalinya, betul?”

Belum sempat kujawab dan belum sempat ku berargumen, kembali sang dosen yang kurasa killer, memarahi ku lagi. “Ini yang terakhir kali, kalo sampai pertemuan depan terulang, jangan harap kamu lulus mata kuliah saya. Dan sekarang saya harap kamu tidak ada alasan untuk tidak mempresentasikan tugas dari saya”.

“Insya Allah saya siap pak, bahannya sudah ada. Sudah saya siapkan dari dua hari yang lalu”, jawabku.

“Bagus, anggota kelompok yang lain silahkan maju. Dan yang lain harap tenang, saya mau presentasi hari ini tidak ada yang membuat kegaduhan seperti pertemuan sebelumnya. Mengerti..?” kata sang dosen.

“Iya pak…!!!!!” jawab seluruh mahasiawa serentak.

Sore itupun presentasi dimulai, hingga petang menjelang. Dan berakhir dengan diringi bell tanda kuliah pada hari itu selesai, karena hari itu hanya satu mata kuliah. “Kriiing…….”

***

Dan haripun berlalu seiring senja hilang di langit sebelah barat ibu kota. Sedangkan perjuanganku, tidak berakhir hanya sampai hari ini. Masih terlalu lama aku harus mengakhiri perjuangan ini, karena ini adalah perjuanganku hingga titik darah penghabisan.

Sesampainya di kost-an, aku langsung isitrahat sejenak dengan merebahkan diri menatap langit-langit kamarku, hingga adzan maghrib memanggilku untuk ibadah. Seperti kebiasan sehari-hari ku disini, selepas adzan langsung ku membersihkan tubuhku dan kulanjutkan dengan berwudhu. Selesai, wudhu ku gunakan pakaian yang sudah hampir seminggu bersemayam dilemari, ku ambil mukena, dan ku mulai sholat maghrib.

Saat sholat, sepertinya tidak ada yang aneh pada diriku. Semua berjalan seperti biasa, dari mulai takbir, sampai dengan salam, tidak ada keanehan. Namun ketika kulanjutkan dengan berdzikir mengucap istighfar, seperti ada beban besar yang menimpaku.

“Astaghfirulloohal ‘azhiim. Alladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuumu wa atuubu ilaih.”

Tiba-tiba airmataku berlinang, ada perasaan tak dapat kutahan. Entah mengapa, sore itu kurasakan bahwa dalam hidup ini aku hanya seorang diri. Semua orang seperti menjauh dariku. Dari mulai orang-orang dalam pekerjaan, teman-teman kuliah, pemilik kost-an tempat ku tinggal saat ini, termasuk keluargaku. Perasaan itu mengatakan bahwa tidak ada yang peduli denganku saat ini. Kalaupun saat ini aku kuat untuk teriak, aku akan meneriakkan semuanya. Namun hanya linangan airmata yang dapat terurai sore itu sebagai saksi semuanya. Sedangkan lidah ini kelu untuk mengucap kata. Dan dalam derai airmata yang tiada henti, kembali ku memohon ampun kepada Dzat Yang Maha Segalanya.

“Astaghfirulloohal ‘azhiim. Alladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuumu wa atuubu ilaih.”

Bukan bertambah tenang hatiku. Bayang bayang masa lalu ketika aku harus pergi meinggalkan rumah dengan sedikit keterpaksaan karena pertengkaran dengan suadaraku, susahnya mencari pekerjaan pertama kali di ibu kota, sampai dengan bayang-bayang saat dua hari aku harus menggelandang, semua mejelma sore itu sehabis sholat ku. Membuat hatiku makin yakin, bahwa aku tak diakui di dunia ini. Aku hanya di lahirkan untuk dibenci orang lain tanpa bisa untuk disayang. Mukena yang masih bersih sehabis ku cuci hari kemarin, kini mulai basah karena terpaan airmata yang terus mengalir. Dan dalam galaunya hatiku tentang perasaan ini, untuk yang ketiga kalinya ku memohon ampun pada Allah SWT., akan hal ini.

“Astaghfirulloohal ‘azhiim. Alladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qoyyuumu wa atuubu ilaih.”

Kini, perasaan itu mulai hilang. Namun, satu perasaan yang membuat airmataku semakin deras mengalir adalah bayangan orang-orang yang telah menolongku saat pertama aku sampai di ibukota, bayang-bayang teman-temanku yang selalu memberiku semangat untuk terus kuliah, dan bayangan orang yang telah melahirkan ku kedunia ini. Nampak jelas terlihat, ibuku, yang sedang merindukan dan memanggil namaku sambil berjuang dengan sakitnya yang mungkin sudah hampir satu tahun. Sedang ayahku, nampak begitu merindukan ku dan berharap aku untuk pulang.

Akhirnya, kuakhiri dzikirku yang hanya tiga kali memohon ampunan, dengan mendoakan orang-orang yang telah menyayangiku dan orang-orang yang ku sayang.

“Yaa Allah, bila memang kini aku harus meninggalkan ibukota untuk kembali pada keluargaku dan meninggalkan semuanya, biarkan berjalan seperti itu. Tapi kuatkanlah hatiku dan hati orang-orang yang ku sayangi di ibukota ini, agar aku dan mereka daapt melewati perpisahan ini. Tapi bila memang aku harus tetap disini, aku terima itu semua sebagai pemberian yang terbaik dari-MU, tapi ijinkanlah aku bertemu orang tua ku yang jauh disana. Yaa Allah, sesungguhnya Engkau lebih tahu mana yang terbaik untuk hamba-Mu yang hina dan lemah ini, Amiin…..”

Setelah selesai sholat isya, akupun segera membereskan beberapa lembar pakaianku untuk persiapan pulang kepada orang tuaku. Dan, Allah memang selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya. Walau hanya melaui pesan singkat, aku dapat ijin tiga hari dari tempat kerjaku. Dan teman kuliahkupun ada yang bersedia mengantarku pulang, dan dia berani meminta ijin ke kampusku untuk waktu tiga hari.

Ternyata aku menyadari, bahwa perasaan yang menganggap diri kita merasa sendriri, adalah salah satu waktu yang terbaik untu dekat dengan Sang Khaliq. Dan karena perasaan itu pula aku jadi lebih tahu, orang-orang yang sayang padaku ternyata tidak terhingga harganya. Baik keluargaku, teman kampus, maupun orang lain yang pernah terlibat dalah garis hidupku.

Dalam perjalanan pulang, tak henti-hentinya ku berdo’a.

“Yaa Allah, terima kasih untuk perasaan merasa sendiri dan terasing yang kau berikan, karena dari sini aku tahu bahwa Engkau sesungguhnya sangat menyayangiku lebih dari yang kukira. Dan, sayangilah keluarga, teman, dan orang-orang yang pernah memberikan kebaikan padaku. Amiin……”

Mobilpun melaju dengan diiringi udara sejuk pagi itu, menuju tanah kelahiranku. Dan sepertinya, disana sudah menunggu kebahagiaan yang tak terhingga. Pastinya sebagai pemberian terbaik dari Allah SWT.

***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s