Berkah Ketupat Sayur Eps.2 : HARUS DARI NOL

sebuah persembahan :

pertama ~ untuk para pekerja yang berjuang dari titik nol dan kini sudah berada di posisi tingkat tinggi. ingat darimana kau berasal, dan bagaimana kau menjadi seperti itu.

kedua ~ selalu untuk ibu-ibu terbaik dinusantara, semoga kami bisa meraih restumu,

ketiga ~ untuk para pimpinan yang telah memilih kami dengan bijaksana sebagai pimpinan perusahan, terima kasih untuk kepercayaannya.

Pagi itu ternyata suasana disebuah kantor cukup sibuk. Banyak sekali orang mondar-mandir berpindah tempat dan berpindah ruangan sambil membawa beberapa berkas, yang isinya mungkin tentang project pekerjaan, proposal usaha, atau surat-menyurat perusahaan. Betul, mereka adalah para karyawan pada sebuah perusahaan yang lumayan besar dan lumayan ternama. Nampak jelas pada salah satu sudut dinding kantor tersebut, terdapat sebuah tulisan besar yang kalo diperhatikan ternyata adalah tulisan “JOKO SASTROKUSUMA Manufakturing (JS Mfc.)”.

Disalah satu sudut kantor itu, terlihat seorang pemuda yang sedang sibuk dengan komputer yang terdapat dimejanya. Dia sedang mengerjakan sebuah proposal kerjasama antar perusahaan. Pemuda itu Nampak serius dengan prosposal yang dikerjakannya. Sesekali dia mencoba menenangkan diri sambil menghilangkan rasa hausnya dengan meminum air putih digelas yang berdiri tegak pada mejanya. Setelah meminum satu tegukan, kembali jari-jemarinya menari diatas keyboard komputer, untuk melanjutkan proposal kerjasama itu.

Nampak dari kejauhan, seorang perempuan menghampiri pemuda itu. Dengan penampilan yang cukup sopan dan menawan, perempuan itu langsung menyapa pemuda yang dari tadi sibuk dengan komputernya.

Assalamu’alaikum pak. Maaf pak, tadi saya dapat telepon dari Pak Joko, kata beliau hari ini beliau tidak dapat hadir kekantor, sehubungan harus mengantarkan ibunya ke bandara. Dan proposal kerjasama yang katanya bapak buat, nanti sore mohon di antar kerumahnya saja. Dan nanti Pak Joko akan menghubungi bapak lebih jauh tentang proposal itu. Gimana pak?”.

Dengan wajah yang agak kaget pemuda itupun menjawab.

Wa’alaikumsalam. Iya saya mengerti. Ini sedang saya kerjakan, Insya Allah dzuhur nanti bisa selesai, dan langsung saya antar kerumah pak Joko. Oh ya, satu hal lagi, lain kali jangan panggil saya Bapak. Karena usia kita tidak terlalu jauh berbeda, dan kamu sendiri kan sudah lebih lama ada disini, sedangkan saya baru enam bulan. Jadi jangan panggil saya Bapak, cukup panggil saya Mas saja. Gimana Putri?”.

Putri, seorang perempuan yang tak lain adalah sekretaris pada kantor tersebut. Seorang perempuan yang sangat cekatan dan terampil. Selain keterampilan yang dia miliki, sopan santun terhadap atasan dan karyawan lain sangat dia pegang. Walaupun posisi dia adalah sebagai sekretaris Pak Joko sekaligus tangan kanannya, tapi dia tidak menggunakan jabatan yang dia punya untuk bersikap angkuh dan sombong. Tidak salah kalau Pak Joko begitu mempertahankan Putri dikantornya, mungkin sudah sekitar 3 tahun dia bekerja pada Pak Joko, dan usianya saat ini baru 23 tahun, jadi dari usia 20 tahun Putri sudah bekerja pada Pak Joko. Dan menurut karyawan yang lain, memang Putri adalah seorang perempuan yang sangat pintar dalam berbagai hal, termasuk dalam hal akademik. Sehingga dia dapat menyelesaikan pendidikan Strata I Manajemennya dalam usia muda.

“Oh…, ya pak. Eehh… Mas… Maaf sebelumnya. Saya mau kembali keruangan, selamat melanjutkan pekerjaan. Assalamu’alaikum….”. Putri mengakhiri percakapan pagi itu.

“Wa’alaikumsalam, terima kasih”. Pemuda itupun menjawab.

Setelah kepergian Putri keruangannya, pemuda itu sedikit termenung dihadapan komputernya. Dia tidak sedang melamun, hanya sedikit berpikir tentang hidupnya itu. Dan mulutnya pun berucap,

“Gak kerasa, ternyata sudah enam bulan aku bekerja disini.  Sejak hari itu, hari dimana ku hanya bermodal teriak copet… copet….. copet…, dan itupun dalam keadaan berpuasa, kemudian mengantarkan pesanan ketupat sayur dimalam takbiran. Kini, aku berada pada sebuah kantor yang cukup megah di pusat ibukota ini. Dan bukan sebagai karyawan biasa, aku sebagai Project Manager. Waktu yang sangat cepat untuk posisi itu. Aku takut terpeleset dan jatuh, bila aku naik terlalu cepat ke puncak pohon”.

“Aahhh….., apa yang aku pikirkan?. Nikmati dan syukuri saja apa yang saat ini aku terima. Anggap ini adalah pemberian terbaik dari Allah. Dan kalaupun hal-hal yang tak diinginkan terjadi, biarlah berjalan atas kehendak-Nya”.

Nampak ada sedikit pergulatan bathin pada pikiran pemuda itu. Pemuda yang tak lain adalah Sena. Anak seorang pedagang ketupat sayur yang mendapat pekerjaan karena berkah dari mengatarkan ketupat sayur serta menolong orang lain pada saat puasa. Namun, pada saat yang seperti ini, Sena dapat mengatasi pergulatan bathin tersebut dan melanjutkan pekerjaannya.

“Yaa Allah, terima kasih atas apa yang Kau berikan pada hamba-Mu ini. Semoga ini semua dapat menjadikan ku lebih dekat dan taat pada-Mu, Amiin…”

“Kriiing…… kriiing…… kriing….”

Suara telepon mengagetkan dan membuyarkan kekhusuan do’a dalam pergulatan bathinnya.

“Assalamu’alaikum, JS Manufaktur, dengan Sena ,ada yang bias saya bantu…?”.

Sena menjawab telepon yang baru masuk tersebut. Sena belum menyadari bahwa yang menghubungi dia adalah Pak Joko, seperti yang tadi disampaikan oleh Putri.

“Sena, ini saya Pak Joko”. Orang dalam teleon tersebut menajawab.

“Pak Joko…, yang mana ya..?” Sena nampak kebingungan karena kaget.

“Masa kamu gak kenal. Lagi kenapa kamu, melamun ya..?”

“Asstagfirullahal ‘adzim, maaf pak, maaf. Bukan saya gak kenal suara bapak, tapi saya agak kaget. Sekali lagi maaf. Ada apa pak..?”.

“Proposal yang kamu sedang buat, saya minta sore ini bisa diselesaikan. Dan kalo sudah selesai, kamu langsung antar ke rumah. Karena saya hari ini tidak bisa ke kantor, segala keperluan kantor hari ini sampai sore, kamu yang meng-handle, ketika kamu mengantar proposal ke rumah, biar Putri yang menangani sisanya. Putri sudah terbiasa kok denga ini semua. Gimana sudah beres..?”.

“Ba’da dzuhur langsung saya antar kerumah pak. Dan…..!!!”

Belum selesai Sena bicara, Pak Joko langsung memotong, “Ada apa..?”

“Oh, ini pak, mungkin saya kerumah bapak ba’da dzuhur yang tadi saya bilang, karena setelah urusan proposal, ada yang mau saya sampaikan juga sama bapak”.

“Ya sudah, nanti saya usahakan dzuhur saya sudah dirumah, sekarang saya harus antar ibu saya ke Bandara. Saya tunggu. Assalamu’alaikum?”, Pak Joko mengakhiri dan menutup teleponnya.

“Wa’alaikumsalam……”

 

*****

“Allahu Allahuakbar…..”

“Allahu Allahuakbar…..”

Azdan dzuhur-pun terdengar oleh Sena, dan dia pun segera mencetak proposal yang akan dia kirim ke rumah Pak Joko. Setelah mencetak proposal tersebut, segera dia berangkat ke Masjid disebelah kantor tempat dia bekerja. Masjid yang tak lain adalah tempat dia di pertemukan dengan Pak Ali, DKM Masjid tersebut yang telah memberikan dia nasehat, bahwa sesungguhnya Allah Maha Adil. Dan ketika dia menginjakkan kaki didepan masjid itu, dai selalu teringat akan hari itu.

Selesai mengerjakan sholat dzuhur, Sena pun langsung berangkat kerumah Pak Joko yang letaknya tidak jauh dengan kediaman Sena sendiri bersama Ibu Mira. Sang Ibu tercinta, dan ibu terbaik di Nusantara ini. Namun, dalam perjalanannya, wajah enam bulan yang lalu ketika dia bingung mencari kerja, nampak muncul kembali diraut mukanya. Sebuah kebimbangan yang sangat mendalam.

Mungkin inilah gambaran sifat manusia. Ketika miskin manusia akan bimbang dengan kelangsungan hidupnya, dan ketika manusia itu kaya, dia pun akan bimbang bagaimana menjaga kekayaannya. Ketika manusia tidak memiliki pekerjaan, manusia akan bimbang dengan kelangsungan hidupnya, dan ketika memiliki pekerjaan, apa yang harus dilakukan untuk kelangsungan pekerjaan itu, dengan begitu banyak tantangan dan lain sebagainya.

Ini mungkin yang sekarang terjadi pada diri seorang Sena. Dengan pekerjaan yang dia rasakan sekarang, dengna posisi sebagai Project Manager pada salah satu perusaahn besar di ibukota, dia bimbang dengan posisnya itu. Mengapa begitu cepat dia dapatkan posisi itu, yang hanya enam bulan. Dan awalnya dia hanya seorang pemuda yang tidak memiliki apa-apa, kini segalanya melimpah dan dia bisa dapatkan. Tapi apakah ini yang dia inginkan.

Pukul 13.30, Sena sampai pada kediaman Pak Joko. Masih seperti enam bulan yang lalu , Mustika Indah B2 No. 2. Sebuah rumah yang lagi-lagi tidak bisa dia lupakan dimalam takbiran itu.

“Assalamu’alaikum..”

“Wa’alikumsalam..”, terdengar suara Pak Joko dari dalam.

“Masuk Sena.”

“Terima kasih Pak”.

Mereka berdua pun masuk. Dan setelah sampai dalam, mereka duduk, dan Sena langsung memulai pembicaran sore itu.

“Ini proposal kerjasamanya pak. Dan saya harap bapak langsung mengkoreksinya, biar nanti malam bisa saya selesaikan, dan besok langsung pertemuan dengan klien”.

“Jangan terburu-buru lah. Pekerjaan yang terburu-buru itu tidak baik”.

“Maafkan saya pak”.

“Gak usah minta maaf segala”. Kemudian Pak Joko langsung membuka lembar demi lembar proposal itu untuk di teliti. Karena itu merupakan proposal kerjsama lanjutan dengan salah satu rekannya yang sudah berjalan dari awal pendirian JS MFc.

Dan Pak Joko pun kembali berbicara.

“Saya rasa proposal ini gak ada yang harus saya koreksi. Semua sudah pada ketentuan yang berlaku dikantor kita, baik dasarnya, perencanaan anggaran dan rencana tindak lanjutnya, sudah ok semua. Ternyata tidak salah saya memilih kamu sebagai Project Manager”.

Sena menghela nafas untuk memulai berbicara.

“Sebelumnya terima kasih dan mohon maaf pak. Jika memang proposal sudah beres, berarti tugas saya untuk proposal ini sudah selesai. Tapi….??”.

Sena terhenti sejenak, seperti ada yang dia pikirkan.

“Tapi apa Sena..?”, Pak Joko menanyakan lebih lanjut.

Kemblai Sena menghela nafas panjang untuk kedua kalinya.

“Begini pak. Saat ini mungkin bapak beranggapan bahwa posisi saya yang sekarang pada perusahan bapak, akan membantu kemajuan perusahaan, dan saya bukan takabur, tapi memang itu yang mungkin kita rasakan bersama. Tapi, ada sedikit yang mengganjal pada diri saya sejak Bapak menunjuk saya sebagai Project Manager.  Bahwa jabatan yang saya pegang saat ini, buat saya terlalu cepat saya dapatkan. Dan sebetulnya, masih ada orang lain yang lebih mampu dibanding saya. Awalnya, mungkin bapak masih ingat enam bulan yang lalu, ketika Bapak menawari saya pekerjaan pada perusahaan Bapak, saya menyangka bahwa saya bekerja hanya sebagai seorang karyawan biasa, dan itu saya syukuri. Tapi hanya berjalan dua minggu, yang Bapak bilang sebagai masa training, kemudian Bapak langsung mnujuk saya sebagai Project Manager pada perusahaan Bapak. Dan saya rasa itu adalah sesuatu yang sangat cepat buat saya untuk posisi itu. Jadi bila Bapak tidak keberatan, saya….”

Belum selesai Sena bicara, Pak Joko langsung memotong.

“Sena, apa yang kamu katakan mungkin ada benarnya. Tapi, saya sudah menjalankan apa yang ada pada sebuah prosedur diperusahaan. Dan kamu juga mungkin tahu bahwa saat itu, perusahaan tidak memiliki Project Manager, ketika saya perhatikan CV kamu, ternyata kamu masuk kriteria untuk posisi tersebut, makanya saya angkat kamu, dan ini sudah melalui persetujuan management perusahaan. Jadi gak usahlah kamu berpikiran yang seperti itu. Dan sebelum kamu bicara lebih jauh, saya tekankan bahwa saat ini, kamu laksanakan pekerjaan seperti biasa, tidak usah berpikiran untuk mengundurkan diri segala. Apa kamu gak sayang sama ibu kamu?”.

Sebuah pertanyaan yang sangat menyentak perasaan Sena. Sebuah keinginan yang sebetulnya sudah dia dapatkan. Sena selalu menginginkan ketika dia sudah bekerja, biar dia yang mengurusi ibunya dari A-Z, sebagai timbale balik apa yang ibunya lakukan ketika dia menempuh pendidikan. Dan mungkin bila dia mengundurkan diri, ibunnya harus bekerja seprti dulu lagi. Walau munkgin saat ini ibunya memeang tetap berjualan ketupat sayur, tapi kondisinya tidak seperti pada saat Sena belum bekerja. Sena membayangkan, apa yang terjadi bila dia kembali tak bekerja.

Tanpa dia sadari, setetes airmata mengalir dipipinya. Sebuah perasaan yang tidak bisa dia cegah ketika mengingat seorang ibu.

“Maaf sekali lagi pak, kalo saya seperti ini dihadapan Bapak. Mungkin tidak sepatutnya saya seperti ini. Dan kalau Bapak sudah bicara seperti itu, mungkin ada satu hal yang saya ingin minta dari Bapak, biarkan saya memulai ini semua dari nol. Biarkan saya bekerja sebagai seorang Project Manager yang amatir. Karena jujur bahwa hampir lima bulan ini, saya bekerja karena sebuah faktor balas budi sama Bapak, seperti halnya mungkin Bapak yang ingin membalas kebaikan kepada saya atas pertolongan terhadap Nidya Amelia Putri, putri Bapak yang sempat akan di copet. Saya merasa harus bekerja dengan baik karena kebaikan orang lain. Tapi mungkin untuk esok hari, biarkan saya bekerja dari nol”.

Kini Pak Joko yang menghela nafas, dan kembali berkata.

“Saya sudah perhatikan kamu. Sejak pertama kali melihat kamu. Dan menurut saya, kamu adalah tipe orang yang punya kemauan keras. Jadi, bila itu yang kamu mau saya tidak akan menghalangi kamu. Tapi, biarkan saya juga memutuskan siapa yang harus saya percaya dan siapa yang tidak. Karena kamu adalah orang yang bisa saya percaya. Dan perlu kamu tahu, bahwa saat ini kepercayan saya masih lebih besar kepada kalian berdua, kamu Sena dan Putri. Karena kalianlah orang-orang yang mau bekerja keras, kreatif, disiplin dan selalu punya inovasi baru untuk perkembangan perusahaan”.

Pembicaraan sore itupun selesai. Proposal yang sudah diserahkan kepada Pak Joko, kembali diberikan kepada Sena, dan Sena ditugaskan untuk menangani sepenuhnya kerjasama tersebut. Dan besok juga dia yang akan mempresentasikan semua yang ada pada proposal itu ke rekan Pak Joko.

Senja ternyata terlalu indah untuk dilupakan. Sebuah pemandangan dari salah satu tanda kebesaran Tuhan. Langit yang jingga, berpadu dengan awan yang abu-abu menambah suasana diatas begitu nyaman. Sena melaksanakan sholat ashar dirumah Pak Joko bersama Pak Joko tentunya. Dan setelah semuanya beres, Sena pun mohon diri untuk pulang, karena jam di dinding rumah Pak Joko sudah hampir pukul 17.00, waktu yang sibuk untuk seorang Ibu Mira. Ibu seorang Project Manager yang masih bersikeras melanjutkan kebiasan dan profesinya sebagai penjual ketupat sayur.

“Saya mohon diri pak. Kasihan ibu sudah menunggu dirumah. Assalamu’alaikum…”.

“Walalikumsalam…”, jawab Pak Joko.

Beberapa langkah dari pintu rumah Pak Joko, Sena bertemu dengan putri Pak Joko, Nidya Amelia.

“Wah Mas Sena, dari rumah yach…?”, tanya Nidya.

“Iya, habis nganter proposal ke Ayah Nidya”, jawab Sena.

“Kok gak lama, Nidya baru aja nyampe, kita gak bias ngobrol donk”. Nidya dengan wajah yang Nampak kecapean,namun bila bertemu orang lain dia ingin selalu tersenyum kepada orang yang ditemuinya, termasuk Sena.

“Insya Allah, nanti saya datang lagi. Sekarang kasihan ibu dirumah, pasti sibuk dengan ketupat sayurnya”. Sena kembali menerangkan kondisinya.

“Ok kalo gitu Mas Sena, sampai ketemu lagi, dan sampaikan salam Nidya untuk Ibunya Mas Sena”.

“Insya Allah akan saya sampaikan. Saya pulang dulu, Assalamu’alaikum”. Sena menutup percakapan senja itu.

“Wa’alaikusalam…”, jawab Nidya.

Diiringi hembusan angin yang semakin dingin sore itu, mereka berdua, Sena dan Nidya, masing-masing menuju pada peraduan terakhir hari itu, rumah. Tapi pada keduanya, ada sedikit rasa yang berbeda dibanding bila bertemu dengan oangl ain. Desiran-desiran dari dalam jiwa, yang mengisyratakan sebuah ikatan sejati dari suatu kehidupan.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s