BERKAH KETUPAT SAYUR Eps.1 (Revisi)

Sore itu Sena duduk termenung di halte sebuah bus di salah satu jalan ibukota. Dengan wajah yang sepertinya begitu lelah, dia hanya bisa membayangkan kemeriahan suasana Wisuda saat dia menyelesaikan Strata satunya di salah satu Fakultas Teknik di Universtias Ibukota. Selintas senyum pahit terlihat diwajah sarjana muda yang penuh dengan beban itu, Dia membayangkan  wajah Ibunya dirumah yang sudah sangat lelah pula, karena telah 15 tahun menjadi penjual ketupat sayur, setelah ayahnya meninggal. Wajah seorang ibu yang butuh kebahagiaan dari seroang anak satu-satunya. Beruntunglah sekarang, bulan ramadhan, karena setidaknya pemasukan Ibunya Sena  sedikit banyak bertambah karena pesanan ketupat sayur untuk berbuka. Dalam senyum pahitnya Sena hanya berucap, “Maaf bu, sampai detik ini anakmu ini, belum bisa membahagiakanmu. Mungkin sudah banyak waktu, pikiran, tenaga, bahkan peluh yang mengalir darimu, hanya untukku. Tapi aku, belum bisa membayar itu semua. Sekali lagi maaf untuk semuanya”. Setetes air matapun mengalir dari mata seorang pemuda strata satu yang  lelah dengan perburuan pekerjaan.

“Allahu Allahuakbar…..”

“Allahu Allahuakbar…..”

Adzan ashar-pun menghentikan ratapan dia sore itu. Dia bergegas  mencari Masjid untuk melaksanakan sholat ashar dan memohon do’a kepada Allah, karena do’a orang yang berpuasa, dia rasa lebih di ijabah sama Allah SWT.

Sementara itu disebuah rumah/warung kecil dipinggir jalan, seorang ibu berusia hampir 50 tahun, masih bergelut dengan bumbu sayur dan rebusan ketupat. Ibu Mira, dialah ibunya Sena, seorang ibu dengan wajah yang tegar dan semangat untuk membuat anaknya berhasil selalu berkorban sejak 15 tahun yang lalu ketika suami tercintanya pergi meninggalkan dia dan anaknya untuk selamanya. Dalam kesibukannya Ibu Ratih berkata, “Mudah-mudahan Allah memberikan Sena sebuah kerjaan, karena hanya Sena lah satu-satunya harapanku untuk hidup, dan Sena juga lah yang membuat aku bisa bertahan sampai saat ini. Karena aku ingin melihat Sena bahagia”.

Di sebuah masjid disalah satu bilangan Ibukota, Sena dengan khusuk menjalankan ibadahnya sebagai seorang muslim. Namun senyum pahit yang tadi siang terukir dan garis bekas linangan airmata yang tadi mengalir, masih terlihat di wajahnya. Dalam do’anya setelah sholat, tiba-tiba ada suara terdengar dari sampingnya, “Insya Allah, do’a mu akan di kabulkan oleh Allah”.

“Assalamu’alikum… kalo boleh tahu siapa nama anak muda ini ?”.

Dengan wajah bingung Sena pun menjawab, “Nama saya Sena pak, bapak sendiri siapa ?”

“Saya pak Ali, DKM Masjid sini. Sebelumnya maaf, tapi kalo pak Ali perhatikan , nak Sena ini sepertinya sedang bingung dan lelah sekali, padahal ini kan hari-hari akhir bulan Ramadhan, dua hari lagi kita lebaran, seharusnya sebagai orang muslim kita bahagia menyambut Idul Fitri, tapi kenapa nak Sena agak murung dan sedih ?”

Dengan wajah masih sama seperti  tadi sambil menarik nafas Sena pun mencoba untuk menjawab pertanyaan pak Ali. Walau pak Ali adalah orag baru yang dia temui, namun wajah dan pembawaan pak Ali membuat Sena senang bercerita dan menajwab pertanyaan pak Ali.

“Begini pak, semenjak ayah saya meniggal sekitar 15 tahun yang lalu sampai hari ini, saya merasa belum bisa membuat bahagia ibu saya yang sudah hampir 50 tahun usianya. Padahal ibu saya yang membuat saya sampai saat ini. Strata I yang saya miliki adalah punya ibu saya, karena pendidikan saya selama ini, dia yang mengurusi. Tapi setelah Strata I saya miliki, sejak 3 bulan yang lalu saya mencoba mencari kerja, sampai saat ini, saya belum mendapatkan kerja. Padahal, jika saya sudah kerja, saya sangan ingin membahagiakan ibu saya dan menyuruhnya berhenti bekerja, biarlah saya yang gantian mencukupi biaya hidup kami berdua”.

“Apa Allah gak sayang umat-NYA pak Ali..?”

Agak kaget, pak Ali beristigfar dan berkata : “ Astagfirullah hal adziim…”

“Jangan berkata seperti itu nak Sena,  Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Mungkin kamu sering mendengar bahwa, – Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum tersebut yang mao mengubahnya-, ini berarti memang kita sebagai makhluk Allah SWT yang sudah diberi kehidupan, harus berusaha untuk menjalani kehidupan in dengan lebih baik. Mudah-mudahan do’a kamu dikabulkan oleh Allah, karena do’a orang yang berpuasa pasti akan dikabulkan.”

“ Astagfirullah hal adziim…, maafkan saya pak, saya tidak bermaksud……”

“Allah lebih tahu apa yang sedang dialami oleh umat-NYA”, Pak Ali memotong.

Dengan wajah yang sudah agak cerah, Sena bangkit dan berkata, “Makasih pak, mudah-mudahan hari ini adalah hari yang berharga buat saya dan gak akan saya lupakan. Saya mao pulang dulu pak, kasihan ibu sudah nunggu dirumah, jualannya juga, biasanya am segini sudah mulai banyak yang beli. Assalamu’alaikum…..”

“Wa’alikumsalam, hati-hati nak Sena…” pak Ali menjawab.

***

Di warungnya, ibu Mira sedang menuggu pembeli ketupat sayurnya, dan dalam lamunannya, ibu Mira kaget dengan suara yang dateng : “Assalamu’alikum bu….., saya pesen ketupat sayur bu….. bu… bu…., Assalamu’alikum…”

Dengan agak kaget bu mira menjawab : “Wa’alikumsalam…. Wa’alikumsalam…, maaf pak, maaf, saya lagi ngelamun ya. Mikirin anak saya belum pulang jam segini, biasanya dia sudah pulang untuk bantu saya. Dengan siapa ya…?”

“Papah ngagetin ibu itu pak”, seorang ibu berumur setengah baya yang berdiri disamping lelaki setengah baya itu memperingatkan suaminya.

“Gak apa-apa bu, mungki memang saya yang lagi melamun”, bu Mira menimpali.

Pak Joko, nama lelaki itu : “Saya Joko bu, mao pesen ketupat sayur 3 porsi, dibungkus aja, untuk buka dirumah, karena istri saya lagi kurang enak badan, dan baru pulang jadi gak sempet masak. Tadi ibu bilang sedang mikirin anaknya yang belum pulang ?, sama, anak saya juga belum pulang, masih ada kegiatan sama temennya”.

“Wah iya pak, soalnya gak biasanya anak saya jam segini belum pulang, mungkin jauh kali perjalananya nyari kerjaan. Padahal biasanya jam segini udah bantu-bantu saya disini, saya kalo sendiri kerepotan.”

“Ini pak, bu, ketupat sayurnya” bu Mira menutup panci dan memberi ketupat sayur itu.

“oh ya, makasih. Jadi berapa bu ?”

“Lima belas ribu saja pak.”

“Ini bu, makasih, Assalamu’alaikum..”

“Wa’alikumsalam…”

Sebuah mobil sedan yang ditumpangi pasangan suami-istri setengah baya tadi meninggalkan ibu Mira dan warungnya. Sore pun beranjak gelap menunggu detik-detik adzan maghrib..

***

Sementara itu, dalam perjalanan pulang, Sena melihat seorang perempuan mao dicopet, dan dengan segera Sena berteriak : “Copet…. copet…….”

Dan dua orang copet yang akan mencopet perempuan tadi pun, lekas pergi, berharap tidak tertangkap warga yang lalu lalang di sekitar jalan itu.

Sena pun mendekati perempuan tadi. “Kamu tidak apa-apa…?”

“Alhamdulillah, gak apa-apa, dan belum sampe kejadian”. Perepmpuan itu menjawab.

“Makasih ya mas….?”

“Sena, saya Sena”. Dia memotong.

“Oh ya makasih mas Sena, saya Nidya. Nidya Amelia Putri”.

“Untung ada mas Sena, kalo ak saya gak tahu apa yang terjadi”.

“Saya hanya membantu sesama muslim, pertolongan sesungguhnya dari Allah”, Sena merendah.

“Teriakan orang yang berpuasa ternyata kuat juga ya… Sekali lagi makasih mas Sena, Maaf saya harus pulang duluan, karena busnya sudah ada. Assalamu’alaikum”

“Wa’alaikumsalam…” sena mengakhiri pembicaraan dan pertemuan dengan seorang perempuan bermana Nidya Amelia Putri.

***

Senjapun beranjak datang merengkuh gelap-gelap malam. “Assalamu’alaikum….”

Sena tiba dirumah nya detik-detik sebelum magrib, dan dia dapti ibuna sedang keperpotan melayani pembeli.

“Wa’alikumsalam, udah cepet bantu ibu, jangan salin dulu kasihan pembeli udah lama nunggu” bu Mira langsung memrintahkan anaknya untuk membantu dia.

“Iya bu…….”

Magribpun datang, dalam lelah dan kesibukan melayani pembeli, mereka berdua, segera membatalkan puasanya hari yang ke-29, dan setelah agak sepi, Sena berkata kepada ibunya, “Maaf bu, sampai saat ini saya belum bisa membahagiakan ibu, padahal ibu sudah bekerja begitu berat untuk saya, tapi saya belum bisa ngasih apa-apa sam ibu, maafin Sena bu.”

“Gak apa-apa Sen, kamu ada tiap hari disamping ibu juga ibu sudah seneng. Karena sejak ayah meninggal, hanya kamu yang ibu miliki. Jadi, mungkin Allah belum ngasih kerjaan sama kamu, bukan Dia gak sayang, tapi mungkin, kamu memang masih disuruh bantu ibu jualan ketupat sayur. Mudah-mudahan ketupat sayur ini bawa keberuntungan.”

“Amiin….”

Disalah satu rumah di perumahan Mustika Indah, sebuah keluarga sedang menyantap ketupat  sayur, selepas menjalan kan sholat magrib.

“Enak sekali Yah ketupat sayur ini, ayah sama Ibu beli dimana ?”

“Ah… kamu ini Nid, selalu tanya makanan dari mana kalo enak, mao di beliin lagi ya..?” Sang ayah menjawab.

“Iya nih, Nidya punya kebisaan yang aneh, kalo ada makanan yang enak, pasti dech besok-besok minta tambah”. Sang ibu menimpali.

“Biarin yang penting, halal dan urusannya cuma makanan, bukan usursan politik atau keamanan negara. Oh ya Yah, tadi aku sempet mao kecopetan, terus ada seorang pemuda nolong aku, namanya Mas Sena. Tapi aku cuma ngucapin terima kasih aja, belum sempet nanya alamatnya atau tinggal dimana.”

Ayahnya menimpali,  “Kamu gimana sich Nid, kalo kita tahu alamatnya kan, kita bisa bersilaturahmi ke tempat tinggalnya. Ayah juga mao ngucapin terima kasih sama dia, atas pertolongan yang diberikan sama dia.”

“Mudah-mudahan ketemu lagi ya Yah, biar ayah bisa ngucapin terima kasih sama dia.”

“Mah tambah lagi dong ketupat sayurnya….”.

Acara buka bersama keluarga itupun berlanjut. Tentunya dengan menu ketupat sayur.

***

Keesokan paginya, mobil sedan milik Pak Joko, kembali melintas dijalan depan warung bu Mira, dan berhenti tepat di depan warung Ketupat Sayur Bu  Mira. Bu Ratih istri pak Joko turun dan menghampiri perempuan yang sedang menyapu yang tak lain adalah Bu Mira.

“Assalamu’alaikum bu…”

“Wa’alaikumsalam..” jawab bu Mira.

“Saya Bu Ratih, istri pak Joko yang kemaren sore pesen Ketupat Sayur. Begini bu, berhubung kondisi saya masih agak kurang baik untuk masak, dan anak perempuan saya juga belum mahir masak, jadi untuk nanti sore buka puasa dan buat acara takbiran, saya pesen ketupat sayur yang agak banyak sama ibu. Dan tolong dianter.”

Bu Mira menjawab, “Kalo untuk menyiapkan yang agak banyak mungin saya siap, tapi yang mengantar, saya cuma sendiri, anak saya kalo pergi mengantar, saya tidak ada yang membantu, padahal kalo sore cukup banyak pembeli. Gimana bu..?”

“Begini saja bu, nganternya ba’da magrib saja, buat acara malem saja. Kalo untuk buka, biar nanti kami cari makan lain saja. Bagaimana bu..?” bu Ratih memudahkan.

“Iya kalo begitu, saya siap. Nganternya kemana ya bu..?”

Sambil menyodorkan pesenan dan selembar kertas yang berisi alamat, “Ini alamatnya, di perumahan sebelah, Perumahan Mustika Indah, gang kedua rumah ketiga yang warna hijau. Saya mao berangkat dulu, makasih ya bu, Assalamu’alaikum…”

“Wa’alaikumsalam…” tutup bu Mira.

Mobil pun meninggalkan jalan didepan warung Ketupat Sayur bu Mira, dan Sena pun keluar dari dalam rumah. “Mobil siapa bu, keren nih ibu sudah dapet langganan orang bermobil..”

“Ah kamu ini, cuma pelanggan baru kok. Baru kemaren sore dia beli 3 bungkus. Tapi, nanti sore ba’da magrib, kamu anter pesenan mereka, karena mereka mao pesen satu panci besar ketupat sayur. Ada acara katanya, dan menunya mao pake ketupat sayur ibu. Ini alamatnya”, Bu Mira menyodorkan alamat yang tadi diberikan oleh bu Ratih.

Sambil berguman Sena berkata : “Mustika Indah B2 No. 2”.

“Di perumahan sebelah, Perumahan Mustika Indah, gang kedua rumah ketiga yang warna hijau, ba’da Magrib jangan lupa ya Na. Ibu mao beli bahan-bahan ya dulu” Bu Mira menambahkan, sambil beranjak pergi.

“Iya bu..” sena menjawab.

Magrib pun tiba, dan sesuai perjanjian ,ba’da magrib pesenan di antar.

“Saya berangkat bu..” Sena beranjak pergi mengantar ketupat Sayur.

“Iya.. semoga ketupat sayur ibu berkah ya nak…, hati-hati”. Bu Mira berharap.

“Amin, iya bu”. Sena pergi.

Sesampainya di tempat yang dituju. “Assalamu’alikum”. Sena mengucap salam.

Dari dalam tampak seorang perempuan muda menjawab salam dan membukakan pintu. Namun agak kaget. “Wa’alikumsalam…., Mas Sena”

Sena pun agak kaget : “Nid… Nid.. Nidya Amelia Putri”.

Nidya pun melanjutkan pembicaraan : “Saya tidak menyangka dapat ketemu sama mas Sena lagi. Oh ya silakan masuk Mas.”

“Bu… bu… pesenan Ketupat sayurnya sudah dateng”. Nidya memanggil ibunya.

Pak Joko dan Bu Ratih pun keluar.

“Ini yah, Mas Sena yang pernah Nidya ceritakan nolongin Nidya waktu mao kecopetan”. Dengan agak seneng Nidya langsung memberitahu tentang Sena kepada Ayahnya.

Pak Joko berkata, “Alhamdulillah, ternyata dunia tidak begitu luas. Mari silhkan duduk Nak Sena”.

“Makasih pak

Pak Joko langsung bicara, “Begini nak Sena, karena kamu sudah menolong Nidya anak saya, dan kebetulan saya lagi butuh orang di kantor saya, dan kemaren ketika saya sekilas bicara dengan ibu Mira, ibunya Nak Sena, kata beliau Nak Sena lagi nyari pekerjaan sampai sore bleum pulang, kamu usdah dapet pekerjaan belum?.  Kalo belum, bagaimana bila Nak Sena bekerja dikantor Saya. Untuk urusan yang lain, nanti bisa kita bicarakan, tapi sekarang saya minta kesediaan Nak Sena saja dahulu. Ini saya minta sebagai ucapan terima kasih Bapak atas apa yang Nak Sena lakukan untuk menolong Nidya tempo hari. Bagaimana ?”

Dengan wajah penuh haru dan mata berkaca-kaca, Sena pun bicara : “Sebenarnya, saya merasa tidak pantas menerima ini semua pak, karena pertolongan itu dari Allah untuk Nidya, saya hanya sebagai perantara saja. Tapi hari seperti ini telah lama saya nantikan, ketika saya sudah bekerja nanti, saya ingin membahagiakan ibu saya. Terima kasih kalo Bapak berkenan mempekerjakan saya, karena memang samapi sore tadi, saya belum mendapat pekerjaan.”

“Sama-sama, saya juga terima kasih Nak Sena telah menolong anak saya, dan bersedia menerima prmintaan terima kasih ini.” Pak joko melanjutkan.

“Maaf pak,bu, dan Nidya, saya tidak bisa lama-lama disini, karena saya harus memberitahukan kabar gembira ini kepada Ibu saya, terima kasih, saya mohon diri, kasihan juga ibu sendiri di rumah. Assalamu’alaikum…”

“Wa’alikumsalam….. “ bertiga menjawab bersamaan.

Dalam perjalanan pulang, Sena mengurai air mata bahagianya sambil mengucap syukur kepada Allah : “Alhamdulillah, terima kasih ya Allah, semoga ini adalah jalan terbaik yang Engkau berikan untukku dan untuk ibuku. Amin..”

______________________________________________________________________________________________________________

cerita ini saya persembahkan :

Untuk seorang ibu yang telah melahirkan dan merawat kita hingga Kini,

dan untuk para ibu yang menjalani kehidupannya dalam kondisi “Single Parent”, sebagai Ayah dan sebagai Ibu,

dan

Untuk perempuan di kehidupan ini, langkah kalian adalah awal dari sebuah kehidupan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s