GADIS GENIT

——————————————————————

“…….Biarlah bayangmu
Selalu di hatiku
Kan kuukir namamu

Sedalam-dalamnya oooh
Sebanyak-banyaknya

Gadisku yang genit
Gadisku yang cantik
Kau buatku berbisik
Gadis genit

Gadisku yang cantik
Wajahmu
Senyummu
Buatku cinta padamu…….”

—————————————————————–

Suara Vidi Aldiano begitu merdu dalam lagunya. Sebuah syair yang mengingatkan ku pada beberapa orang perempuan yang sifat dan tingkah lakunya mirip dengan apa yang disampaikan Vidi. Walau siang di pusat ibukota begitu panas, dan kalau kata Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mungkin panas siang ini bisa mencapai 37°C, tapi tak apalah, karena lagu ini sedikit mendinginkan suasana yang panas, yang membakar kulit para pengendara sepeda motor yang tidak memakai jacket diluar sana.

“Permisi mas, lagi sibuk gak..?”, sebuah suara mengagetkan ku yang sedang melamunkan para gadis genit dan suasana panas ibukotaku.

Kutolehkan kepalaku yang sedari tadi manggut-manggut sedikit mengantuk. Ada sedikit perasaan kaget bercampur aneh, tapi ada pula sedikit rasa bahagia. Karena ketika kepalaku menoleh hampir sembilan puluh derajat ke kiri, berdiri disana, didepan pintu sebuah ruangan dimana ku sedang duduk, dias, satu dari para gadis genit dalam lamunanku. Perasaan itu yang membuatku kembali bengong dan melamun sejenak lebih dalam. Hingga untuk kedua kalinya, dia kembali bersuara.

“Helloo……, permisi mas. Lagi sibuk gak nich…?”

Dengan sedikit kaget, kucoba kendalikan diriku. Kulempar jauh-jauh lamunanku tentangnnya. Dan mulai kuatur nafasku untuk menjawab dia.

“Wa’alikumsalam….. gak sibuk kok, ada apa..?”, jawabku dengan perasaan yang sungguh aneh.

“Emang aku tadi ngucap salam ya, kok mas udah jawab duluan…?”, sedikit dia memperjelas keberadaanya dihadapanku.

“Yaa, salam kan tergantung yang mengucapkannya. Kalo ada yang mengucap salam pertama, itu wajib dijawab. Tapi kalo gak ada yang mulai, kenapa gak kita mulai aja sendiri, kan salam itu sebagai do’a untuk keselamatan diri kita dan orang lain. Saling mendo’akan gitu”, ku coba menenangkan diri lebih jauh.

“Ah si mas bisa aja. Iya deh aku ulang, Assalamu’alaikum…”

“Wa’alikumsalam”, kembali ku jawab.

Dia pun memulai pembicaraan lebih jauh.

“Begini mas ku yang cakep, tapi jangan ge-er ya kalo aku bilang cakep”.

Belum sempat dia bicara lebih jauh, walau dia bilang jangan ge-er, tapi perasaan ku tidak bicara seperti itu. Ada rasa yang tadi ku buang jauh-jauh, kini pulang dan kembali bersandar di bahuku.

“Tuch kan bengong lagi…”.

“Enak aja bengong, gak kok. Orang lagi memperhatikan kamu ngomong”, sedikit ku mencari celah.

“Aku ulang lagi ya mas. Begini, besok aku mau daftar disalah satu perguruan tinggi, kemaren aku sudah sempet ke sana, dan disana minta surat keterangan dari sekolah, karena kan belum ada Ijazah. Kalo aku coba tanya sama yang lain, katanya sama mas kalo mau bikin surat keterangan yach..? Bener gak”.

Suaranya  itu yang terkadang membuat aku berpikir bahwa dia adalah seorang perempuan manja yang harus di dampingi dalam melalui kehidupan, biar gak salah langkah. Memang ini bukan pertama kali aku bertemu dan bicara dengannya, pernah ada lain waktu aku pernah berbicara dengannya. Dan justru dari beberapa pertemuan itu, kini ada rasa yang berbeda di sisi lain kehidupanku. Benar kalo kata orang, bahwa semakin banyak intensitas pertemuan dengan sesorang akan merubah sikap dan rasa serta penilaian terhadap orang tersebut. Sungguh sebuah kalimat yang tidak dapat ku pungkiri.

Aku pun bersuara untuk menjawab pertanyaannya.

“Surat keterangan macam apa yang harus saya buat. Karena ada surat keterangan yang bersifat rekomendasi atau surat keterangan yang bersifat menerangkan pelaksanaan suatu hal. Yang mana..?” kini aku kembali  yang bertanya.

Dia pun menjawab tapi agak ragu.

“Yaaa…, yang penting menerangkan bahwa saya adalah siswa sini dan sudah beres ujian tinggal nunggu ijazah aja. Gimana kalo yang itu..?”

“Waduh, panjang amat. Tapi bisalah itu saya kategorikan sebagai surat rekomendasi. Tapi….!!!”

“Assalamu’alaikum…. Hayo lagi ngapain berdua…?”

Dua orang tiba-tiba datang dari balik pintu dan mengagetkan kami berdua. Mereka tak lain adalah para gadis genit yang lain yang sedari tadi ada dalam lamunanku.

“Hati-hati mas sama Deby, dia sering ngerayu orang. Ntar mas dirayu loh. Dari pada sama Deby mending sama Ayu,he…he…he…, boleh kan Deb..?”

Belum selesai yang satu bicara, yang lain menimpali.

“Iya mas, betul kaya Ayu, Deby sering ngerayu orang. Tukang ojek depan aja kepincut semua sama Deby. Tapi kalo kata Cilla, sama ayu juga jangan, abang-abang tukang rujak sama abang-abang tukang somay, sudah siap melamar si Ayu, jadi mending sama Cilla…”

“Gak mau juga kale sama Cilla. Hello, mau dikemanain pak satpam. Katanya Cilla kemaren nonton sama pak satpam pas dipasar malem”, Ayu sepertinya mulai serius dengan lelucon yang dibuatnya sendiri.

Lima menit mereka kumpul serasa lima hari kubersama mereka. Rame, berisik dan semua tentang ketidak sepian ada di sini, dihadapan ku saat ini. Dari pada berlanjut menjadi satu bulan, lebih baik ku potong saja mereka.

“Helloo……., sebentar-sebentar. Ok, semuanya nanti boleh deket sama saya. Kalo kamu bertiga, berarti siap-siap aja dapet sepertiga bagian. Gimana..?”.

“haa….ha…..ha….”, semuanya pun tertawa.

Deby pun bicara, “Iya bentar dulu. Ini lagi serius, lagu ngurus surat keterangan buat pengantar ke perguruan tinggi”.

“Oohhh…, kirain lagi ngurus surat nikah buat berdua”, Ayu kembali meledek.

“Surat nikah juga gak apa-apa, kan udah cocok”, spontan Cilla menjawab.

Wajah Deby sedikit memerah dengan senyum yang begtu alami dan sayang kalo ku lewatkan.

“Apaan sich Cilla..?”, Deby sedikit melirik Cilla, masih dengan wajah yang agak memerah.

“Ok begini Deb, kamu butuh surat ini kapan, kalo besok, nanti sore saya kerjakan. Mudah-mudahan besok pagi bisa beres, gimana?”, tanyaku.

“Yaah… si mas ini, kalo saya tunggu gimana. Coz besok pagi saya harus sudah bawa ke kampus itu. Biar gak sampe sore, kan agak jauh kampusnya. Maka mas gak kasihan sich sama Deby….?”, jawabnya.

“What….?, sekarang. Waduh bias gak yach…?”.

“Apa sich yang bias wat Deby. Begitu kan mas?”, Ayu kembali bersuara.

“Iya mas, gak lama kan. Cuma surat selembar kan…?”, Cilla menambahkan.

“Aahh… kalian ini. Tapi ok, saya usahakan. Tapi setelah surat beres, saya minta imbalan berupa minuman dingin satu gelas, yaa…. Semacam jus lah. Itung-itung  menghilangkan rasa haus ngomong sama kalian?”, aku coba menawar.

“Sekarang juga akan Deby bawakan buat mas. Biar cepet selesai”. Suara Deby sedikit membuat ku melayang, karena, suara yang ku dengar begitu alami, tanpa adanya paksaan.

“Tuch kan mas, jangankan segelas. Kalo perlu dibawa ke took-tokonya buat mas, iya kan Deb..?”, Cilla memanasi Deby.

Dan seprti dugaanku, Ayu menambah suasana semakin ribet.

“Masku yang ganteng dan yang paling ku sayang, kayaknya nich yach, kalo kita perhatiin, jangankan mas minta segelas jus, mas minta hati sama jantungnya juga, Deby pasti rela”.

“Haa….ha….ha….ha…..”. Kamipun tertawa bersama. Sehingga suasana yang tadi begitu panas, kini semakin sejuk, walau mungkin hanya diruanganku dan didalam hatiku.

“Ya sudah mas, Deby sama Ayu dan Cilla, mau ke kantin dulu. Nanti balik lagi. Bener mas mau jus aja gak yang lain..?”, Deby memastikan pesananku.

“Emang boleh nambah…?”, tanyaku.

“Boleh”, jawabnya.

“Kalo gitu, satu gelas jus dan….. sedikit senyum dari Deby, tolong ditambahin digelasnya, biar jusnya tambah manis, gimana?”.

“Yach… lama dech berangkatnya, dia mulai lagi”, Ayu mengerutu.

“Gak kok, cukup jus aja. Makasih ya semua”, ku akhiri pembicaraan dengan mereka.

“Ok mas sama-sama. Kami berangkat dulu”.

Mereka pun berangkat ke kantin untuk membeli pesananku. Ada sedikit kebahagiaan dalam diriku. Karena bisa begitu dekat dengan dia. Ini tidak seperti biasanya. Dan yang semakin membuatku bahagia adalah ketika hendak menutup pintu kantorku, Deby kembali menoleh ke arah ku sambil berkata, “Mas ada salam..?”.

Aku sedikit kaget.

“Dari siapa…?”, tanyaku.

“Dari Deby. Salam sayang katanya”, jawabnya.

Diapun berlalu dengan senyum mengembang. Dan dari tempatku kini, masih terngiang –ngiang suara Deby bersama Ayu dan Cilla. Sungguh rasa ini sebagai pemberian Tuhan yang terbaik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s