AKU, KAU DAN HADIAH DARI JOGJA

“untuk perempuan dengan senyum yang indah, dan lesung pipi yang mendalam, terima kasih untuk semuanya”

(based on true story)

 

Hari sudah gelap, diiringi semilir angin malam yang semakin dingin. Menggoyangkan dedaunan di pohon depan rumah, menembus lembaran-lembaran selimut para manusia yang sudah begitu lelap dalam tidurnya, yang mungkin terlalu lelah dengan kehidupan dan dunianya masing-masing. Waktu sudah menunjukan pukul 21.15, ketika aku duduk diteras rumah orang tuaku yang sangat sederhana, beratap genting dan berdiding bata merah berhias cat warna biru. Sama halnya dengan orang yang lain, aku begitu lelah dengan duniaku yang tak kunjung berubah. Dengan selimut yang tidak terlalu tebal, kembali kurasakan sabetan-sabetan pedang dari angin yang berhembus malam itu.

Masih terdengar kebisingan-kebisingan di pusat kota dari tempat aku duduk. Deru mesin mobil-mobil yang mungkin juga sudah lelah, teriakan-teriakan sepeda motor yang sudah mulai serak dan ingin isitirahat, serta bentakan-bentakan suara container yang sangat berwibawa memecah dan meramaikan suasana malam yang begitu sepi di pinggir kota ini. Malam ini sebetulnya tanggal lima belas penanggalan jawa, namun purnama tak juga muncul dari peraduannya. Mungkin karena purnama juga lelah dengan dunianya, hingga malam ini, dia juga perlu beristirahat, tertidur pulas dan berselimut awan hitam.

Aku terdiam sejenak, sambil membenarkan selimutku, mataku menerawang jauh dari tempat dudukku. Walau tubuhku sedang duduk dengan selimut tipis dirumah berbalut cat warna biru, tapi jiwaku sedang bermain-main didunia yang tidak kuketahui dimana ujungnya. Ketika malam semakin larut,  terawangankupun semakin jauh, entah kemana aku akan istirahat dan berhenti. Dan semilir angin malam yang semakin dingin, menambah malam itu semakin nyaman untuk aku menerawang.

“Cuwit… cuwit…, cuwit…cuwit”.

Tiba-tiba saja aku terkejut, sebuah pesan masuk pada hanphone-ku. Sebuah pesan yang menghilangkan segala asa, kebahagiaan, dan khayalan indah saat itu. Sambil membenarkan posisi duduk dan merapihkan selimutku,  aku mengambil handphone di meja kaca yang terdapat di sebelah kiriku. Pesan yang aku sendiri belum tahu siapa yang mengirimnya. Karena ketika aku lihat dan buka pada pesan masuk, terdapat pesan yang tidak ada nama pengirimnya, hanya sebuah nomor baru. Dan dalam keadaan yang seperti itu, aku hanya dapat bertanya dalam hati, “Nomor siapa..?”.

Akupun membuka pesan masuk yang aku terima di handphone.

“Malam kak, maaf ganggu. Apa betul ini nomor kak Jaka..?. Saya Nita, mau tanya perkembangan disekolah tentang kelulusan dan info lowongan pekerjaan, katanya ada lowongan pekerjaan ya. Makasih”.

Aku nampak kaget dengan pesan yang kuterima. Sebuah pesan dari seorang perempuan bernama Nita. Aku pun kembali menerawang, tapi kali ini yang aku bayangkan adalah sosok perempuan bernama Nita. Apakah benar Nita yang mengirimiku pesan adalah Nita yang itu. Aku adalah seorang pegawai pada salah satu instansi pendidikan. Mungkin sudah hampir lima tahun aku bekerja disitu, dan sudah banyak orang yang hilir mudik dan tegur sama denganku. Dan pada suatu kesepatan, pernah aku melihat sosok perempuan yang begitu cantik, tinggi semampai, dan memiliki lesung pipi yang membuat sang perempuan nampak manis bila tersenyum. Ditambah dengan penampilan yang sopan dan bebalut kerudung, sungguh idaman para kaum Adam, mungkin termasuk aku, dan nama perempuan pujaan kaum Adam itu adalah, Nita. Tapi, apa betul Nita yang sekarang mengirmi pesan padaku adalah Nita itu.

Tanpa pikir panjang, dan tak mau larut dalam kebingungan tentang siapa yang mengirimi pesan dan siapa sosok perempuan yang bernama Nita ini, aku langsung menekal tombol call pada hanphone yang kupegang. Dan nada tunggu aku terima dan kudengarkan, hingga akhirnya, suara seorang perempuan mengucap salam menerima panggilan dariku.

“Hallo, Assalamu’alaikum….”.

“Wa’alikumsalam. Ini saya Jaka, saya menerima pesan dari nomor ini, dan namanya Nita. Kalo boleh saya tanya Nita yang mana yach..?”, tanyaku.

“Ini saya Kak Jaka, Nita anak kelas tiga program akuntansi. Soalnya kata temen-temen yang tadi siang sms Nita, disekolah ada pengumuman tentang lowongan  kerja buat kelas tiga yang udah ujian. Nita belum sempat tanya lebih jauh tentang itu sama temen-temen, jadi Nita tanya sama Kak Jaka aja. Ganggu ya..?”, Nita bertanya balik.

Pikiranku kini benar-benar focus pada sosok perempuan itu. Ternyata benar, Nita yang sekarang bicara padaku adalah sosok perempuan yang begitu cantik, tinggi semampai, dan memiliki lesung pipi yang mendalam, manis bila tersenyum. Dan aku pun menjawab pertanyaan dari Nita.

“Ooooh….., Nita yang itu. Yang punya lesung pipi yaa..?. Ganggu..? Gak kok, dan kenapa Nita Cuma sms, kenapa gak datang aja ke sekolah. Kan deket dari rumah Nita. Kalo gak salah bukannya cuma sekitar 500 meter dari rumah ke sekolah..?”.

“Sebenernya mau Nita kesekolah, tapi kan sekarang Nita lagi gak dirumah. Nita sekarang lagi di Jogja, pulkam gitu dech”.

“Oh gitu. Ya udah, nanti coba saya cari tahu informasi sama pembina hubungan industry disekolah tentang lowongan pekerjaan ini. Btw, mau Tanya apalagi, biar besok sekalian saya tanyakan biar lebih lengkap..?”, tanyaku kembali.

“Itu aja si Kak. Oh ya, mau oleh-oleh apa nich dari Jogja..?”, tanya Nita.

“Emang boleh apa minta oleh-oleh, ntar ngerepotin lagi”.

“Gak apa-apa kali, asal jangan yang macem-macem aja, dan bisa dibawa pulang “, kata Nita.

Dengan nada yang agak bercanda tapi sebenarnya cukup serius, kembali ku bicara, “Yang penting Nita pulang kembali ke sini dengan selamat dan utuh, itu udah merupakan oleh-oleh buat saya. Karena lihat kamu dengan lesung pipi dan senyum, itu udah lebih dari cukup. Kalo boleh lagi bawain saya perempuan Jogja yang manis dan cantik seperti Nita”.

“Ah si kakak bisa aja. Makasih ya, maaf kalo sudah ganggu malam-malam seperti ini”, Nita mulai mengakhiri obrolan malam itu.

“Ok. Selamat istirahat aja. Nanti saya kabarin lagi tentang perkembangan ini. Saya juga sepertinya sudah mulai ngantuk, udah dulu ya, Assalamu’alaikum”.

“Wa’alaikumsalam”, jawab Nita.

Malam pun berlanjut dengan dinginnya dan dengan gelapnya yang tanpa sinar purnama. Kini, hanya tinggal malam dan diriku bersama bayang-bayang Nita yang mengakhiri malam itu.

***

Malam itu ternyata menjadi salah satu malam terbaik pemberian dari Tuhan. Karena sejak malam itu, aku merasa ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang selama ini kulamunkan, sesuatu yang selama ini kubayangkan. Ada semangat baru, tindakan baru, pandangan baru dan sebuah perubahan yang betul-betul berbeda dari sebelumnya, sebelum malam itu. Hari kehari ternyata memberiku ruang dan memberiku waktu yang lebih. Walau sebenarnya hari-kehari jumlah waktu sama, dua puluh empat jam, tapi sejak malam itu, ada waktu yang lebih, terutama untuk bicara dan mengobrol bersama dia, Nita. Perempuan dengan lesung pipi dan senyum yang indah.

Pemberian terbaik dari Tuhan ternyata tidak sampai disitu. Hampir satu minggu telah berlalu sejak malam ku terima dan bicara padanya. Hari ini, ketika ku mulai disibukkan dengan pekerjaan yang dari hari kehari semakin padat, kembali ku terima hal terbaik sebagai pemberian terbaik dari Tuhan. Dengan kesibukan yang menguras seluruh pikiran dan tenaga, aku dikagetkan dengan suara dari balik pintu kantorku.

“Assalamu’alaikum…..!!!!!”.

Sosok perempuan dengan senyum yang begitu indah, lesung pipinya yang tidak bisa ku lupakan, kini hadir di depanku. Walau hampir beberapa hari ini ku selalu bicara padanya, tapi ketika bertemu dan berhadapan langsung dengan dia, ada rasa takut dalam diriku. Takut tidak bisa mengendalikan diriku, bahwa aku begitu mendambanya. Dengan nafas yang begitu dalam, dan dengan penuh bahagia, kucoba kendalikan diriku dari rasa takut yang mungkin tak dapat ku kendalikan.

“Wa’alaikumsalam…..!!!, kirain siapa..?”, jawabku.

“Ganggu gak kak..?”, Tanya Nita.

“Gak, silahkan masuk dan silahkan duduk”. Akupun mempersilahkan Nita.

Nita, masih dengan lesung pipi dan senyum yang indah, duduk dihadapanku kemudian langsung bicara.

“Ini kak, sebagai ucapan terima kasih atas informasi yang diberikan Kakak sama Nita. Yaa, mungkin itu juga sebagai oleh-oleh dari Jogja yang waktu itu Nita janjikan. Mungkin gak seberapa, tapi semoga bermanfaat”. Nita menyerahkan sebuah bungkusan kecil kepadaku, yang sebetulnya aku tidak terlalu mengharapkan itu. Karena dia ada dihadapanku, langsung dan dapat bicara berdua saja, sudah lebih dari pada cukup sebagai hadiah yang ku terima.

“Nita kok repot-repot. Saya tidak mengharapkan ini loh Nit, kamu senyum sama saya aja, itu udah membuat saya seneng”, jawabku.

“Gak apa-apa kak, ini juga sebenernya mau diberikan dua hari yang lalu ketika Nita pulang dari Jogja, tapi Nita lihat Kakak sibuk banget, jadi Nita gak enak aja ganggunya. Dan baru hari ini dech Nita bisa kasih ini, dan kakak harus terima”, walau dengan nada memaksa tapi masih dengan senyumnya yang manis.

“Yaa kalo kamu seperti itu, saya ucapin terima kasih dan saya terima. Tapi saya gak bisa kasih apa-apa sama Nita sebagai balasan atas pemberian ini”, jawabku.

“Gak apa-apa kak. Anggap aja pemberian Nita ini sebagai tali pengikat silaturrahmi antara Nita sama Kakak. Kan Nita sebentar lagi mau keluar dari sini, jadi ini hitung-hitung untuk mengingatkan Kakak, kalau Kakak pernah ketemu sama orang seperti Nita. Itu aja ya, Nita sudah ditunggu anak-anak, katanya mau pada main kerumah Nita. Makasih udah mau terima ini”. Nita mengakhiri ucapannya.

“Inysa Allah, apapun ini akan selalu menjadi pengingat saya kepada kamu. Bahwa saya pernah bertemu, bicara dan kenal dengan seorang perempuan yang cantik, manis, dan baik hati. Dan, hati-hati ya. Jangan lupa, selalu ibadah”, jawabku.

“Ya sudah, Nita berangkat dulu ya kak, Assalamu’alaikum……”, ucap Nita.

“Wa’alaikumsalam…!!!”, jawabku.

Perasaan bahagia kembali menghampiriku, dan kali ini sudah bisa ku kendalikan. Memang selalu ada yang istimewa dari permberian-Nya. Walaupun Nita sudah menghilang dari balik pintu kantorku diringi senyum mengembang dan lesung yang mendalam, tapi masih selalu ada bayangnya dihadapanku kini.

Hari ini seperti hari terbaik dari Tuhan dibanding hari-hari lainnya, walau sebenarnya setiap hari adalah baik. Dan ketika ku sampai dirumah, sebuah hadiah dari Nita ku buka dengan hati yang begitu senang. Walau barang itu mungkin nilai nya tidak seberapa, tapi ketika ku buka, wajah perempuan dengan senyum yang indah di hiasi lesung pipi yang mendalam hadir kembali didepanku. Seraya berkata, “Ini sebagai ucapan terima kasih Nita kepada Kakak, atas semua perhatian dan sikap yang Kakak berikan kepada Nita selama ini. Walau tidak seberapa, tapi semoga bermanfaat untuk Kakak”.

Yaa, sebuah kaos dari Jogja asli bertulis “Dagadu Jogja”. Dan sampai hari ini, ketika ku buka lemariku, akan selalu hadir wajah perempuan dengan senyum indah berhias lesung pipi yang mendalam, Nita. Sungguh sebuah pemberian terbaik dari Tuhan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s