Ketika bantuan jadi petaka

ELIE Wiesel, salah seorang dari sedikit yang luput dari neraka pemusnahan total (/holocaust/) Hitler di Kamar Gas Auschwitch, menulis sebuah buku kecil berjudul /Nacht/. Ada bagian dari buku itu yang menceritakan pengalamannya ketika orang-orang Yahudi diangkut dengan kereta api tertutup ke tempat pemusnahan total mereka.

Mereka didesak-desakkan laksana hewan di dalam kereta yang sangat minim ventilasi. Selain hampir tidak bisa bernapas, mereka juga kehausan dan kelaparan. Sekali-sekali tentara Jerman membuka jendela kereta sekadar memasukkan udara segar, dan sesudah itu ditutup lagi.

Pada suatu saat, seorang tentara Nazi Jerman iseng-iseng melemparkan seketul roti ke tengah-tengah mereka. Maka terjadilah pemandangan yang mengejutkan. Didorong oleh kelaparan yang amat-sangat, mereka saling sikut, dorong-mendorong, injak-menginjak, bahkan berbunuh-bunuhan memperebutkan roti seketul itu.

Tentara Nazi Jerman menyaksikan pemandangan liar itu dengan kenikmatan luar biasa. Naluri kebinatangan mereka pun ikut digairahkan ketika manusia yang telah berubah menjadi binatang itu mempertontonkan naluri keliaran mereka yang paling asli. Peristiwa tersebut sangat mengesankan Elie Wiesel. Ia tidak pernah mampu melupakannya.

Bertahun-tahun kemudian, dalam salah satu pelayarannya ke Timur Jauh, ia menyaksikan lagi peristiwa serupa. Ketika kapal yang ia tumpangi berlabuh di salah satu pelabuhan di Kepulauan Maladewa, ia melihat begitu banyak anak berenang mengitari kapal sambil menadahkan tangan meminta sedekah. Biasanya mereka dengan tangkas menangkap apa saja yang dilemparkan para penumpang.

Seorang nyonya dengan asyiknya melemparkan uang recehan ke tengah-tengah kerumunan anak-anak itu. Anak-anak itu memperebutkan uang recehan itu sambil berkelahi satu sama lain. Nyonya itu begitu asyik menikmati pemandangan langka itu, sehingga ia terus-menerus melemparkan uang recehan ke arah mereka. Terus-menerus pula anak-anak itu berkelahi.

Dibayang-bayangi oleh peristiwa kereta api tertutup Nazi Jerman, Elie Wiesel tidak tahan melihat pemandangan mengerikan itu. “Jangan dilakukan lagi,” ia menegur sang nyonya. Sang nyonya tidak menerima baik teguran tersebut. Sambil merengut ia berkata: “Mengapa saya dilarang untuk berbuat baik?”

Demikianlah, suatu perbuatan yang disangka baik belum tentu menghasilkan yang baik. Bahkan bukan tidak mungkin justru berakibat sebaliknya. Apalagi, seperti dalam peristiwa Nazi-Jerman itu, tentu bukan niat baik yang ditonjolkan. Yang ada di sana adalah keisengan menyaksikan reaksi orang kelaparan, yang saling bunuh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s