Tanganmu, Ibu…….

_dari sebuah milist_/

Tanganmu, Ibu…
Ibumu adalah
Ibunda darah dagingmu
Tundukkan mukamu
Bungkukkan badanmu
Raih punggung tangan beliau
Ciumlah dalam-dalam
Hiruplah wewangian cintanya
Dan rasukkan ke dalam kalbumu
Agar menjadi azimah bagi rizqi dan kebahagiaan
/
(Emha Ainun Najib)

___________________________________________________________________

Siang sudah sampai pada pertengahan. Dan Ibu begitu anggun menjumpai
saya di
depan pintu. Gegas saya rengkuh punggung tangannya, menciumnya lama.
Ternyata rindu padanya tidak bertepuk sebelah tangan. Ibu juga mendaratkan
kecupan sayang di ubun-ubun ini, lama. “Alhamdulillah, kamu sudah pulang,”
itu ucapannya kemudian. Begitu masuk ke dalam rumah, saya mendapati ruangan
yang sungguh bersih. Sudah lama tidak pulang.
Ba’da Ashar,
“Nak, tolong angkatin panci, airnya sudah mendidih.” Gegas saya angkat
pancinya dan dahipun berkerut, panci kecil itu diisi setengahnya. “Ah
mungkin hanya untuk membuat beberapa gelas teh saja,” pikir saya.
“Eh, tolongin bawa ember ini ke depan, Ibu mau menyiram.” Sebuah ember
putih
ukuran sedang telah terisi air, juga setengahnya. Saya memindahkannya ke
halaman depan dengan mudahnya. Saya pandangi bunga-bunga peliharaan Ibu.
Subur dan terawat. Dari dulu Ibu suka sekali menanam bunga.
“Nak, Ibu baru saja mencuci sarung, peras dulu, abis itu jemur di pagar
yah,” pinta Ibu.
“Eh, bantuin Ibu potongin daging ayam,” sekilas saya memandang Ibu yang
tengah bersusah payah memasak. Tumben Ibu begitu banyak meminta bantuan,
biasanya beliau anteng dan cekatan dalam segala hal.
Sesosok wanita muda sedang menyapu ketika saya masuk rumah sepulang dari
ziarah. “Neng..” itu sapanya, kepalanya mengangguk ke arah saya. “Bu, siapa
itu?” tanya saya. “Oh itu yang bantu-bantu Ibu sekarang,” pendeknya. Dan
saya semakin termangu, dari dulu Ibu paling tidak suka mengeluarkan uang
untuk mengupah orang lain dalam pekerjaan rumah tangga. Pantesan rumah
terlihat lebih bersih dari biasanya.
Dan, semua pertanyaan itu seakan terjawab ketika saya menemaninya tilawah
selepas Maghrib. Tangan Ibu gemetar memegang penunjuk yang terbuat dari
kertas koran yang dipilin kecil, menelusuri tiap huruf Al-Quran. Dan mata
ini memandang lekat pada jemarinya. Keriput, urat-uratnya menonjol jelas,
bukan itu yang membuat saya tertegun. Tangan itu terus bergetar. Saya
berpaling, menyembunyikan bening kristal yang tiba-tiba muncul di kelopak
mata. Mungkinkah segala bantuan yang ia minta sejak saya pulang, karena
tangannya tak lagi paripurna melakukan banyak hal?
“Dingin,” bisik saya, sambil beringsut membenamkan kepala di pangkuannya.
Ibu masih terus tilawah, sedang tangan kirinya membelai kepala saya. Saya
memeluknya, merengkuh banyak kehangatan yang dilimpahkannya tak berhingga.
Adzan Isya berkumandang,
Ibu berdiri di samping saya, bersiap menjadi imam. Tak lama suaranya
memenuhi udara mushalla kecil rumah. Seperti biasa surat cinta yang
dibacanya selalu itu, Ad-Dhuha dan At-Thariq.
Usai shalat, saya menunggunya membaca wirid, dan seperti tadi saya pandangi
lagi tangannya yang terus bergetar. “Duh Allah, sayangi Mamah,” spontan
saya
memohon. “Neng,” suara ibu membuyarkan lamunan itu, kini tangannya
terangsur
di depan saya, kebiasaan saat selesai shalat, saya rengkuh tangan berkah
itu
dan menciumnya.
“Tangan ibu kenapa?” tanya saya pelan. Sebelum menjawab, ibu tersenyum
manis
sekali.
“Penyakit orang tua.”
“Sekarang tangan ibu hanya mampu melakukan yang ringan-ringan saja, irit
tenaga,” tambahnya.
Udara semakin dingin. Bintang-bintang di langit kian gemerlap berlatarkan
langit biru tak berpenyangga. Saya memandangnya dari teras depan rumah. Ada
bulan yang sudah memerah sejak tadi. Malam perlahan beranjak jauh. Dalam
hening itu, saya membayangkan senyuman manis Ibu sehabis shalat Isya tadi.
Apa maksudnya? Dan mengapakah, saya seperti melayang. Telah banyak hal yang
dipersembahkan tangannya untuk saya. Tangan yang tak pernah mencubit,
sejengkel apapun perasaannya menghadapi kenakalan saya. Tangan yang selalu
berangsur ke kepala dan membetulkan letak jilbab ketika saya tergesa pergi
sekolah. Tangan yang selalu dan selalu mengelus lembut ketika saya mencari
kekuatan di pangkuannya saat hati saya bergemuruh. Tangan yang menengadah
ketika memohon kepada Allah untuk setiap ujian yang saya jalani. Tangan
yang
pernah membuat bunga dari pita-pita berwarna dan menyimpannya di meja
belajar saya ketika saya masih kecil yang katanya biar saya lebih semangat
belajar.
Sewaktu saya baru memasuki bangku kuliah dan harus tinggal jauh darinya,
suratnya selalu saja datang. Tulisan tangannya kadang membuat saya
mengerutkan dahi, pasalnya beberapa huruf terlihat sama, huruf ‘n’ dan ‘m’
nya mirip sekali. Ibu paling suka menulis surat dengan tulisan sambung.
Dalam suratnya, selalu Ibu menyisipkan puisi yang diciptakannya sendiri.
Ada
sebuah puisinya yang saya sukai. Ibu memang suka menyanjung:
Kau adalah gemerlap bintang di langit malam,
Bukan, kau lebih dari itu
Kau adalah pendar rembulan di angkasa sana,
Bukan, kau lebih dari itu,
Kau adalah benderang matahari di tiap waktu,
Bukan, kau lebih dari itu
Kau adalah Sinopsis semesta.
Itu saja.
Tangan ibunda adalah perpanjangan tangan Tuhan. Itu yang saya baca dari
sebuah buku. Jika saya renungkan, memang demikian. Tangan seorang ibunda
adalah perwujudan banyak hal: kasih sayang, kesabaran, cinta, ketulusan.
Pernahkah ia pamrih setelah tangannya menyajikan masakan di meja makan
untuk
sarapan? Pernahkan Ia meminta upah dari tengadah jemari ketika mendoakan
anaknya agar diberi Allah banyak kemudahan dalam menapaki hidup? Pernahkah
ia menagih uang atas jerih payah tangannya membereskan tempat tidur kita?
Pernahkah ia mengungkap balasan atas semua persembahan tangannya?
…Pernahkah…?
Ketika akan meninggalkannya untuk kembali, saya masih merajuknya “Bu,
ikutlah ke Jakarta, biar dekat dengan anak-anak.”
“Ah, Allah lebih perkasa dibanding kalian, Dia menjaga Ibu dengan baik di
sini. Kamu yang seharusnya sering datang, Ibu akan lebih senang,”
jawabannya
ringan. Tak ada air mata seperti saat-saat dulu melepas saya pergi. Ibu
tampak lebih pasrah, menyerahkan semua kepada kehendak Allah. Sebelum
pergi,
saya merengkuh kembali punggung tangannya, selagi sempat, saya reguk
seluruh
keikhlasan yang pernah dipersembahkannya untuk saya. Selagi sisa waktu yang
saya punya masih ada, tangannya saya ciumi sepenuh takzim. Saya takut,
sungguh takut, tak dapati lagi kesempatan meraih tangannya, meletakannya di
kening.
***
Bagaimana dengan kalian para sahabat? Engkau sangat tahu, lewat tangannya
kau ada, duduk di depan komputer dan membaca tulisan saya ini. Engkau
sangat
tahu, lewat tangannya kau bisa menjadi seseorang yang menjadi kebanggaan.
Engkau sangat tahu, dibandingkan siapapun juga. Maka, usah kau tunggu
hingga
tangannya gemetar, untuk mengajaknya bahagia. Inilah saatnya, inilah
masanya.

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s