PAGI UNTUK SANG BUNDA

 

Pagi ini, saat lantunan ayat-ayat Al-Qur’an masih terngiang dari kejauhan, saat lantangnya sang jantan membangunkan fajar, dan saat alunan lirih music terdengar disebuah gubuk berbalut kasih, terlihat seraut wajah penuh harap dalam tidurnya, penuh lelah dalam peluhnya, dan masih dengan banyak kasih sayang dan cinta untuk anak-anaknya. Tak ada yang bisa menandingi segala kerja keras dan apa yang dia lakukan untuk anak-anaknya. Pagi dia berikan untuk anak-anaknya, siang dia persembahkan untuk anak-anaknya, dan malam dia berikan, untuk anak-anaknya, sedangkan dia sendiri, hanya ingin satu hal, kebahagiaan yang dirasakan oleh anak-anaknya, itu saja.

Ada semacam kekhawatiran yang seorang aku pikirkan. Kekhawatiran yang begitu mendalam, kehawatiran yang apakah bisa dihilangkan. Yaa, seorang aku terlalu khawatir “Apakah bisa mewujudkan harapan seraut wajah penuh harap dalam tidurnya, mewujudkan harap dari seorang Ibu.”

Masih teringat Ibu dengan segala kasih sayang dan cintanya membawa seorang aku selama Sembilan bulan dalam kandungannya. Berat, sesak, bahkan diam tanpa gerak, tapi itu beliau lakukan tanpa adanya keluh kesah dan tanpa adanya kata tak pantas. Dengan mengorbankan segala yang dia punya, termasuk jiwa raganya, dia pertaruhkan untuk membawa seorang aku melihat dunia yang lebih luas dan lebih kejam, dengan harapan “Semoga seorang aku bisa lebih baik darinya, dari sang Ibu.” Dan ketika kita terlahir melihat dunia nyata yang penuh dengan segala halangan dan rintangan, sang Ibu dengan segala kekuatan dan keahlian yang dia miliki, mempertahankan seorang aku dari segala ancaman yang ada. Ddan kini, ketika seorang aku beranjak dewasa, perlindungan, kasih sayang, cinta dan segala yang dia punya, tidak berhenti walau sesaat, untuk seorang aku.

Hingga ketika malam beranjak datang, dalam lelahnya, masih dengan peluh yang ada di pelipis-pelipis wajahnya dan masih dengan nafas yang sesaat agak lambat, dibaringkannya seorang aku dipangkuannya, dibelainya kepala seorang aku dengan lembut. Tak ada kebahagiaan lain yang bisa disandingkan dengan itu semua ketika seorang aku berada dalam pangkuan sang Ibu. Beliau-pun berkata, “Untuk bisa menjadi pahlawan, tak perlulah engkau berperang mengangkat senjata. Untuk dapat melihat dunia, tak perlu kamu terbang kelangit. Untuk menjadi baik, tak perlulah kamu menjadi malaikat.  Dan untuk menjadi bahagia, atau untuk membahagiakan Ibu, tak perlulah kamu bawakan ibu harta melimpah atau segala kemewahan, cukup kau bawakan Ibu seorang yang bisa membahagiakan kamu, seperti ibu membuatmu bahagia, seorang yang bisa merawatmu seperti Ibu membesarkanmu, dan seorang yang bisa mengerti segala kekuranganmu, serta seorang yang bisa mengisi sela-sela jari tanganmu. Itu saja, karena ketika kamu bahagia, maka ibu akan bahagia.” Tak terasa, airmata mengalir perlahan dipipi seorang aku, masih dalam pangkuannya. Tak dapat disembunyikan kekhawatiran seorang aku, namun biarlah Allah Yang Maha Tahu, menyimpan apa yang dirasakan seorang aku saat itu.

Dan kini, ketika mentari beranjak naik, masih dengan kekhawatiran, masih dengan segala gelisah, dan masih dengan segala harap yang seorang aku sendiri tak tahu apakah harap itu dapat terwujud. Dan tak ada kekuatan lain yang dapat aku minta pertolongan selain dari pada DIA.

“Yaa Rabb, dengan segala kelemahan dan dengan segala kekurangan yang ada padaku, berikan kesehatan dalam aktivitasnya, berikan kehangatan dalam tidurnya, berikan senyum dalam harinya, dan berikan dia kebahagiaan dalam hidupnya, kepada dia, Sang Ibu. Boleh kau ambil segala sehat, kehangatan, senyum, dan bahagia yang ada pada seroang aku, untuknya. Tapi jangan biarkan, dia sakit walau sedetik, jangna biarkan dia dingin walau oleh angin, jangan biarkan dia menangis walau segaris, dan jangan berikan dia duka walau sekata. Dan bila memang kebahagiaan yang dia miliki dapat terwujud ketika harapan yang ada pada seorang aku memilikinya, maka berikan yang terbaik untuk seorang aku, dan untuk Sang Ibu. Amiin..”

 

================================================

MAAF, IBU

 

Tak terkata sudah berapa banyak cinta yang kau berikan

Tak terhitung sudah berapa banyak kasih sayang yang kau limpahkan

Dan tak terhingga sudah berapa banyak kebahagiaan yang kau sandarkan

untuk kami

 

Maaf Ibu,

Bila sampai saat ini, belum ada cinta yang kami punya untuk engkau yang begitu setia sepanjang masa

Maaf Ibu, bila sampai detik ini belum ada kasih sayang yang kami punya untuk membalas engkau yang selalu ada

Dan maaf Ibu, bila sampai kini, belum ada kebahagiaan yang kami punya untuk melihat senyum dari wajah engkau Sang Bunda

 

Pagi kau berikan kepada jiwa kami,

Siang kau persembahkan kepada raga kami,

Dan malam kau anugerahkan kepada senyum kami

Kami tahu bahwa sampai kapanpun, tak akan ada cara untuk membalas semua itu,

Tapi kami akan berusaha untuk selalu melihat engkau tersenyum dan bahagia.

 

Bila kebahagiaan yang kau inginkan adalah ketika kami bahagia bersama orang lain,

Maka maaf bila sampai saat ini kami belum bisa mewujudkan kebahagiaan engkau Sang Bunda.

Dan,

Setelah dari semua yang kau lakukan untuk kami,

Sudah selayaknya engkau mendapat yang lebih baik dari ini.

Tapi, maaf Ibu bila waktu belum mengijinkan kami unutuk itu semua.

 

Maaf, Ibu.

Hanya beberapa titik air mata kebahagiaan yang penuh harap yang dapat kami berikan untukmu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s