CERITA DIUJUNG SENJA

Cerita Di Ujung Senja

 

Pagi belumlah lebar membuka mata dan sang fajar pun masih enggan untuk menghangatkan bumi Tuhan, ketika kumandang adzan shubuh saling bersahut-sahutan mengingatkan setiap hamba untuk bangkit dan menyadarkan diri bahwa kewajiban telah menanti. Kewajiban akan seorang hamba yang harus taat melaksanakan terintah Tuhan-nya. Tak terkecuali untuk dia, lelaki setengah baya yang kini terbaring lelap dalam tidur, diruang tiga kali empat meter, yang hanya berisi tempat tidur, satu buah meja kerja, satu lemari pakaian dari kayu peniggalan sang kakek yang sudah Nampak lapuk, dan dua buah rak buku yang hampr tak mampu menampung buku-buku yang dibaca oleh lelaki setengah baya itu. Kamar yang hanya beratapkan plafon yang terbuat dari triplek, disana tergantung satu buah lampu yang menerangi lelaki setengah baya itu ketika membaca dan bekerja. Dindingnya dengan warna hijau muda, yang selalu dijadikan peraduan setiap malam olehnya. Dua buah pintu yang berada di bagian depan dan samping kiri kamar itu, menambah sempit kamar tiga kali empat meter itu.

Wajah yang selalu terlihat lelah setiap akan beranjak tidur, kini terlihat nampak pucat dan gelisah. Tiak tahu apa yang terjadi, namun kegelisahan yang sepertinya berasal dari mimpi malam ini. Kegelisahan yang jarang dirasakannya. Kain sepanjang satu meter setengah yang biasa untuk selimutnya, seperti sudah tak terurus, seperti terbang dan lari dari badannya. Kain itu tergeletak dilantai, menyatu dengan sebuah sajadah lusuh yang biasa dia gunakan untuk mengadu pada Tuhan, ketika semua manusia tenang dalam tidurnya. Dan hanya sesosok tubuh, pucat, gelisah, dan terlihat penuh ketakutan.

“Uhuk…uhuk…uhuk… ..”

Terdengar suara batuk penuh dahak dari lelaki setengah baya itu. Dan karena batuknya, kini dia terduduk penuh cemas, sambil melihat samar tangan kanan yang menutup mulutnya. Tanpa merubah posisi duduknya, dia pun berbisik lirih “Asatagfirullah hal adzim… Yaa Rabb, berilah saya kekuatan untuk melewati ini semua, karena taka da keuatan yang bias melawan ini semua selain dari pada kekuatan Engkau.”

Dai pun kini bangkit dari tempat tidurnya, sambil membereskan tempat tidur itu, Nampak dia mengambil kain yang terjatuh dilantai yang biasa dia gunakan untuk selimut, kemudian dia membersihkan tangan dan mulut serta hidungnya, yang terlihat seperti ada darah segar yang mengalir dari mulut dan hidungnya, tepat pada saat dia batuk dan terbangun dari tidurnya. Diapun segera merapihkan semuanya, seperti tidak mau ada yang tahu akan kejadian pagi itu pada dirinya. Kemudian dia membuka pintu sebelah kiri kamarnya, untuk mengambil handuk dan membersihkan dirinya beserta membersihkan kain yang dia gunakan untuk mengelap darah yang berlumur pada mulut dan hidungnya.

“Kriiiinngggg……kriiiingggg…..”

Sebuah alarm berbunyi, menandakan sang waktu telah bersiap pada jam 05.00. diapun bersegera merapihkan semuanya, agar tidak ada siapapun yang tahu. Selesai mandi,  diapun mengambil wudhu.

“Tumben udah bangun. Biasanya jam segini masih ngelingker di tempat tidur. Mau kemana emang? Kenapa gak bilang dari sore kalau mau ada kegiatan dan bangun pagi, segala pake nyuci lagi. Biasanya juga Ibu yang nyuci.”

Serentet kalimat penuh Tanya dan penuh keingintahuan dari seorang perempuan yang telah melahirkan dan membesarkannya. Karena memang hari ini tidak seperti biasa. Seorang perempuan yang selalu membuat lelaki setengah baya itu, menangis setiap malam ketika manusia lain tertidur, karena dia belum dapat membahagiakan perempuan itu, perempuan yang selalu menjadikan dia kuat dalam menghadapi segala hal. Seorang Ibu, yang dia jadikan panutan dan pembimbing ketika dia jauh melangkah dari jalan yang sebebenarnya.

“Eeehhhhh…. Ibu, kirain siapa. Bikin kaget aja. Gak ada apa-apa kok, dan gak mau kemana-mana juga. Biasa, mandi, sholat, ngopi dan sarapan, terus berangkat kerja. Gak ada yang special kok.” Jawab nya.

“Kalo gak ada yang special dan gak mau kemana-mana, kenapa bangun mendahului Ibu, dan mencuci sendiri? Ibu jua masih bisa kok Cuma nyuci baju, celana, sama kain selimut kamu.” Kembali sang ibu bertanya penuh ingin tahu kepada anaknya.

“Ya emang lagi kepengen bangun pagi aja bu. Dan udah sama juga Sena gak nyuci sendiri. Selalu ibu yang nyuci. padahal Sena juga bias nyuci pakaian sendiri. Ya emang jarang-jarang, tapi kan kalo lagi kepengen gak apa apa kan…?” kembali sebuah argument keluar dari mulut lelaki itu. Lelaki yang biasa di panggil Sena. Agar kekhawatiran ibunya tidak berkelanjutan.

“Ya sudah kalo begitu. Sudah cepet wudhu, nanti shubuhnya kelewat lagi.”

Sena pun bergegas untuk wudhu. Selesai wudhu, dia masuk kamar. Mengambil pakaian untuk bekerja dan dilanjutkan dengan sholat shubuh. Dan dalam sholatnya, ada hal yang memang berbeda dari hari-hari biasanya. Dari takbir hingga salam, tak berhenti airmata mengalir di pipinya. Seperti sebuah kesaksian dan pengaduan kepada Tuhan, akan keadaan yang sedang dia tanggungnya. Walau sesungguhnya, beban yang dia tahu saat ini adalah, kenapa ini harus terjadi sekarang, ketika dia belum sempat membahagiakan orang tuanya, terutama ibunya. Kenapa tidak nanti, ketika semua orang disekitarnya telah bahagia. Dan sebaris do’a pun mengakhiri tangisnya pagi itu.

“Tuhan, aku tahu bahwa terlalu banyak salah dan dosa pada diri ini. Banyak sekali diri ini telah merepotkan orang lain, dari mulai aku dilahirkan hingga saat ini. Dan yang terjadi pagi ini, kalau memang ini adalah pertanda bahwa akan ada yang harus berakhir, maka aku harap tunggu hingga aku bisa mengucapkan terima kasih pada semuanya. Karena, akan terasa terlalu pahit dan getir bila aku pergi tanpa mengucapkan terima kasih kepada meereka semua. Aku mungkin belum bias membalas semuanya, semua kebaikan orang-orang disekitar ku, namun beri aku kesempatan untuk mengucapkan terima kasih saja kepada mereka. Amin.”

“Sena, sarapan di meja. Kopinya juga sudah sekalian. Ibu kepasar dulu yach. Kamu kalo mau berangkat, berangkat saja. Gak usah nunggu ibu pulang.”

Sena kemudaian segera mengelap airmata yang mengalir bersama do’a. membereskan sajadahnya, kemudian beranjak kedepan dengan sedikit berlari.

“Bu, makasih buat sarapan dan kopinya. Hati-hati yach…” Ibunya pun tersenyum berangkat kepasar, meninggalkan Sena yang bersiap menikmati sarapan dan segelas kopi pagi ini.

 

*****

“Saya memang belum memahami apa yang terjadi. Banyak sekali kemungkinan yang dapat terjadi. Tapi sekedar diagnose awal, ada semacam atau sedikit pembengkakkan pada saraf bagian belakang kepala Mas Sena. Dan untuk saat ini memang saya belum bisa katakan itu bahaya atau tidak, karena saya harus menganalisis lebih lanjut. Kapan mas ada waktu mungkin bisa datsng lagi kesini. Tapi memang gak cukup hanya sejam dua-jam.”

“Pembengkakkan pada saraf bagian belakang kepala?” Kalimat itulah yang mulai kemarin terpikirkan oleh Sena. Dan dalam perjalannya menuju tempat kerjapun, seperti setengah sadar. Kendaraan yang dia bawa melaju tidak kencang, hanya sekitar 20 Km per-jam. Melewati jalan pagi itu, seperti melewati perjalanan panjang tanpa arah, terasa lama, berat dan cukup melelahkan. Namun, lelah yang saat ini ada bukan karena perjalannya, melainkan karena ada banyak hal yang saat ini membebani pikiran dia. Angin pagi yang perlahan membelai halus, udara segar yang masih bersih untuk dihirup, dan beberapa pemandangan hijau yang dilewati, setidaknya cukup sedikit meringankannya dan menyemangati dirinya untuk sampai di tempat kerjanya, karena pasti sudah banyak yang menunggu Sena.

“Pak Sena baru sampai? Kok tidak seperti biasanya. Kemaren-kemaren dating hapir satu jam sebelum bel, lah kok sekarang sudah mau bel baru sampai, ada apa ini toh..?” Sebuah kalimat pagi hari dari keamanan tempat bekerjanya menyambut Sena, beberapa detik ketika deru mesin motornya berhenti.

“Owhh…, maaf pak, dari pas pulang kemaren sore, ada beberapa hal yang harus saya kerjakan di rumah, dan belum selesai pas mau berangkat pagi ini juga, makanya saya agak telat dikit.” Jawab Sena.

“Ya gak telat juga kok. Cuma gak seperti biasanya saja. Dan kok hari ini wajah Pak Sena agak pucat, kenapa, lagi sakit mungkin?”, tambah pak Mul, nama keamanan tempat bekerjanya Sena.

“Ha…ha..ha…, bias saja pak Mul. Mungkin saya kurang tidur saja kali, jadinya pucat. Atau mungkin semalem pas saya tidur, ada vamvir perempuan yang menghisap darah saya kali pak, makanya jadi kurang darah gini. Yow is, saya masuk dulu pak, kasihan takutnya naak-anak sudah menunggu.”

Sena pun meninggalkan pak Mul di lapangan parkir. Dia bergegas keruang guru, jalannya cukup cepat, sambil melihat jam ditangan kirinya, seperti sudah agak telat. Karena ketika dia sampai, bel pergantian jam sudah berbunyi. Dan di depan pintu ruang guru, ketua kelas yang akan dia ajar telah menunggu.

“Maaf ya, saya telat. Pasti sudah pada nunggu saya dikelas, ya Ray..?” Sena langsung bicara.

“Gak kok pak, gak telat. Santai aja, kan juga baru bel.” Jawab Rayendra, sang ketua kelas.

“Saya kedalam dulu yach, menaruh tas, dan terus ke kelas. Kamu mau nunggu saya atau ke kelas duluan?”

“Ray tunggu bapak aja dech. Gak lama kan kalo Cuma naruh tas aja.” Kata Ray.

“Pastinya.” Sena memastikan diri tidak lama.

Selang beberapa menit, Sena pun bergegas keluar dari ruang guru. Membawa spidol, buku pelajaran, beserta absen. Dan Ray Nampak menuggu bapak gurunya keluar. Dan ketika Sena keluar pintu ruang guru, “Sini pak, Ray aja yang bawa.”

“Terima kasih, gak usah repot-repot. Saya bias bawa ini sendiri. Dan lagian kan saya sudah sering merepotkan kamu Ray, jadi terima kasih atas tawaran untuk hari ini. Dan untuk bantuan yang kemaren-kemaren, terima kasih juga yach…”. Jawab Sena.

Mereka pun jalan berdua menuju kelas. Walau agak sedikit kecewa karena tawarannya tidak diterima, namun seperti ada sedikit pertanyaan dalam pikiran sang ketua kelas Rayendra, “Ada apa sich sama Pak Sena, kok gak seperti biasanya, segala ngucapin terima kasih lagi. Iya kalo terima kasihnya sedikit, ini pake segala sama yang kemaren-kemaren lagi. Kok ngerasa ada yang aneh yach..?”

Sesampainya dikelas, seperti biasa, pelajaran pun dimulai. Berdo’a, mengabsen, dan memulai materi pelajaran pada hari itu. Memang seperti ada yang berbeda. Karena semenjak masuk kelas hingga pelajaran berakhir, suasana yang biasanya ramai seperti pasar, kali ini cukup tenang. Sang guru, Pak Sena memang kurang atau tidak menyadai hal itu, dan hal yang terjadi pada dirinya, tetapi anak-anak serempak diam, setelah berdo’a dan dia absen. Karena hari ini, yang berdiri dan duduk didepan kelas bukan lah bapak guru yang mengajar seperti biasa, ada sesosok manusia lain diruang kelas pada hari ini, sosok lelaki separuh baya yang wajahnya terlihat pucat, sorot mata yang penuh beban, serta canda yang biasa ada, hari ini tidak terdengar sama sekali dari sang guru. Dan yang membuat anak-anak dlaam kelas itu kaget adalah, lima belas menit sebelum bel berakhir, dalam duduk dan diamnya pak guru, seperti ada yang mengalir dari hidung sang guru. Cairan kental berwarna merah agak kehitam-hitaman. Darah. Ya, darah segar namun tidak sehat mengalir dari hidung Pak Sena.

“Pak, bapak kenapa? Sedang sakit kan, atau…”. Seorang siswa bertanya.

“Maaf, gak apa-apa kok. Mungkin karena factor panas dalam saja kali, jadi mimisan begini.” Sena-pun menjawab kekhawatiran anak-anak sambil mengelap dan membersihkan darah dengan tissue.

“Maaf sebelumnya, bila hari ini kalian melihat saya tidak seperti biasa, karena ada beberapa hal yang memang sedang saya pikirkan dan harus selesaikan. Tapi, hal yang terjadi pada saya, bukan karena kalian kok, ini murni  kewajiban yang harus saya selesaikan sendiri. Dan, terima kasih buat perhatian kalian hari ini dan dihari-hari yang lalu. Maaf kalo saya belum bias membalasnya, membalas  perhatian yang kalian berikan. Dan….”

“Bapak ngomong apa sich pak, kayak orang mau peri jauh saja.” Potong Ray.

Sambil melepas senyum, Sena pun melanjutkan.

“Bukan mau pergi atau tidak, ya namanya juga orang mau ngucapin terima kasih, kapanpun dan dimanapun, kan sah-sah saja. Setidaknya, bila kita sudah mengucapkan terima kasih, beban di hati atas bantuan oang lain, walau kita belum dapat membalas dengan hal yang sama, mudah-mudahan bias mengurangi beban itu. Seklai lagi makasih untuk semuanya yach. Dan pelajaran hari ini saya cukupkan. Wasalamu’alaikum…..” Sena-pun lantas meninggalkan ruang kelas itu, di ringi jawaban salam dari anak-anak, dan kebingungan anak-anak terhadapnya hari ini.

Sesampainya diruang guru, karena jadwal hari itu hanya dua jam pelajaran, Sena bergegas meniggalkan tempat kerjanya. Dan seperti terburu-buru. Mengenakan jacket hitam, sarung tangan, menggamblok tas, dan menenteng helm. Dan tanpa basa-basi, dia langsung menghidupkan motornya. Dan menarik gas sepeda morotnya itu. Kemudian sebelu meniggalkan gerbang, dia mleihat pak Mul, dan dengan kondisi yang sudah begitu rapih, dia pun menyapa pak Mul.

“Pak Mul, titip salam buat yang laen, maaf hari ini gak sampe sore, karena saya ada perlu dan banyak yang harus saya selesaikan dirumah. Terima kasih buat semuanya yach…” Sena pun meninggalkan tempat kerjanya, dengan diringi kebingungan pak Mul dan anggukan saja yang terlihat dari raut muka pak Mul.

“Iya pak Sena, hati-hati…” Jawab pak Mul.

 

*****

Matahari belumlah tinggi, baru sepenggalah. Dan sang waktupun baru menujukan sekitar pukul 10.00 pagi. Sepeda motor yang dikemudikan Sena, kini berjalan cukup cepat. Melewati jalan utama dari ibu kota, seperti tergesa-gesa. Sena beberapa kali berhenti, membuka helm-nya dan terlihat seperti memukul kepalanya. Seperti ada kesakitan luar biasa yang mencengkram kepalanya. Dan setelah mengendarai jalan hamper 25 menitan yang cukup panjang, samapilah dia pada sebuah rumah sakit. Rumah sakit tempat dia bertemu sang dokter kemaren sore.

“Siang Dok.” Sena membuka pintu ruang sang dokter.

“Siang juga mas Sena. Alhamdulillah sudah bisa datang sepagi ini. Ada apa ini?” Tanya sang dokter.

“Tentang yang kemaren dok. Apa bisa dilanjutkan hari ini analisis dokter. Karena dari semalem dan sampai pagi ini, sudah hampir sepuluh kali, kepala saya terasa sakit yang tidak pernah saya almai sebelumnya. Seperti dipukul palu dari dalam dok. Dan pagi ini dan barusan di tempat kerja, tiba-tiba saya mengeluarkan darah dari hidung dan mulut, padahal walaupun panas dalam dan batuk, tidak sampai mengeluarkan darah. Apa yang terjadi dok?” Tanya Sena dengan penuh harap.

Dan sambil menghela nafas, dan raut muka yang serius, dokter pun menjelaskan dan melanjutkan analisis yang kemaren sempat tertunda dan baru perkiraan awal.

“Begini Mas Sena. Pembengkakkan yang terjadi di bagian belkakang kepala Mas Sena, mungkin disebabkan adanya penyempitan pada otak bagian belakang, sehingga darah tidak dapat berjalan dan mengalir secara normal. Dan itu mengakibatkan pembuluh darah menjadi agak membengkak. Memang secara kasat mata tidak Nampak, tapi bila itu bertambah besar dan lama, say khawatir akan menghambat peredaran darah di bagian kepala dan otak. Dan kalo sakit yang mas rasakan, itu akibat kurangnya supply darah pada bagian tertentu, karena darah tidak mengalir ke bagian tersebut. Nah kalo darah yang mengalir mungkin dari dua kali yang mas bilang, itu karena ada beberapa pembuluh darah yang pecah akibat darah yang seharusnya mengalir, masih tersumbat, terutama bagian-bagian yang kecil.”

“Apa itu bahaya dok?” Sena memotong.

Kembali sang dokter menghela nafas. Namun, kali ini helaan nafasnya lebih panjang, sperti ada yang disembunyikan.

“Untuk saat ini sich, tidak terlalu bahaya. Masih dalam batas kewajaran. Tapi mas harus banyak istirahat yach, jangan sampai terlalu capai, karena bila capai dan banyak bekerja, kerja jantung dan otak akan semakin cepat, sehingga peredaran darah juga semakin cepat. Nanti takut berakibat pada pembengkakkan yang ada. Itu saja sich.” Tutp sang dokter.

“Baik dok, terima kasih kalo begitu. Maaf bila merepotkan dokter. Sekali lagi terima kasih untuk segala informasi dan analisis dokter. Saya pamit, Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam….” Jawab dokter.

 

*****

 

Sena pun pulang meniggalkan rumah sakit itu. Walau sebenarnya masih banyak pertanyaan yang harus dia sampaikan, namun karena sudah banyak pasien lain yang menunggu, makanya dia tahan pertanyaan itu. Berharap bahwa esok dia bias menghubungi dokter itu dan berbicara lagi lebih jauh.

Sesampainya dirumah, dia melaksanakan sholat dzuhur. Dan setelah sholat, untuk menghilangkan rasa penasaran akan pertanyaanya, dia pun membuka internet. Mencoba mencari tahu sebagai orang awam, atas kejadian yang sedang terjadi pada dirinya. Hampir tiga jam dia browsing dalam dunia maya tentang hal pembengkakan pada dirinya, yaitu pada bagian belakang kepalanya. Dan setelah selesai browsing, dan menulis surat, ternyata jam sudah pukul 16.30, dia pun beranajak mengambil wudhu untuk melaksanakan sholat ashar. Diamtikannya computer yang dia miliki, surat di letakan diatas komputernya, dan dia pergi ke sumur untuk mengambil wudhu.

Alam seperti telah mengetahui apa yang akan terjadi. Atas se-ijin Tuhan, sore ini langit cukup bershabat, karena panas yang siang tadi menyengat kulit, sore ini tidak terasa. Udara bahkan terasa begitu sejuk. Semilir angin yang perlahan membelai sang daun, dan beberapa kicau burung menghiasi sore itu. Terdengar mengalun dengan samar surat Al-Fatihah dan surat Al-Fill dirakat pertama. Kemudian kembali mengalun masih dengan samar surat Al-Fatihah dan surat Al-Ikhlas di rakaat kedua. Dan setelah itu, hening, sepi, sunyi. Termasuk alam. Angin yang sedari tadi membelai daun, kini tiada lagi. Dedaunan pun tiada yang bergoyang. Kicau burung yang setelah adzan ashar cukup meriah, kini sepi. Seperti sedang merenungi nasib seroang diri dalam ruang tak berpenghuni.

“Yaa Allah……, Asatagfirullah hal adzim… Sena… Sena…Sena…”

Sebuah teriakan berbarengan dengan tangisan yang menyayat hati. Keluar dari mulut sang Ibu. Karena beliau mendapati sang anak, Sena, dengan posisi terduduk, kedua tangannya didekapkan didada, dalam posisi tahiyat akhir, dengan wajah yang berlumur darah yang keluar dari mulut dan hidung, serta masih Nampak membekas pada pipinya, linangan air mata selepas ashar senja ini. Sena, lelaki separuh baya yang masih ingin membahagiakan orang-orang yang telah memberikan senyum kepadanya, kini telah pergi bersama senja sore ini, bersama cerita antara dedauan dan angin, dan pergi bersama nyanyian sang pelaku senja yang dibelai angin.

“Innalillahi wa inna illaihi raajiuun….”

Hanya selembar kertas yang kini berasa diatas computer yang tahu bagaimana cerita di senja ini. Sebuah tulisan penuh makna, sebuah balasan dari jiwa, yang belum sempat terkata.

“Ter-untuk semua orang yang telah memberikan senyum dan perhatiannya kepada saya. Maaf bila saya belum bias membalas senyum kepada kalian semua. Terutama ibu, orang yang telah melahirkan dan mebesarkan saya, orang paling mulia yang selalu mensupport saya ketika saya jatuh, dan orang yang selalu memgang saya ketika saya tinggi. Maaf bu, bila sampai dengan saat ini, anakmu ini belum bisa membahagiakan Ibu. Bukan karena aku tidak mampu, mungkin Tuhan belum memberikan ku waktu untuk itu. Tapi, saya yakin bahwa bila waktu saya tidak sampai pada saat itu, saat dimana ibu bahagia, saya yakin Tuhan lebih tahu mana yang akan membahagiakan ibu. Sekali lagi maaf bila saya belum dapat membuat ibu bahagia, dan Terima kasih untuk semua kasih sayang mu pada ku.

Buat dokter yang walau tidak lama berbicara dengan anda, saya tahu bahwa dokter tidak membeberkan semuanya kepada saya, karena dokter menghargai dan tidak mau saya kaget kemudian jatuh atas hal yang terjadi pada saya.  Dan ketika saya coba menelajahi dunia maya, dengan tanda dan hal yang saya temui beberapa hari ini, termasuk informasi dari dokter, ternyata saya tahu bahwa waktu saya tidak banyak lagi. Sekali lagi terima kasih dokter, anda telah memberikan informasi yang membuat saya sadar bahwa manusia memang hanyapunya banyak keinginan, tapi Tuhan lebih tahu mana yang kita butuhkan. Termasuk saya, ternyata keinginan saya untuk membahagiakan orang-orang disekitar saya, mungkin di anggap Tuhan terlalu banyak, maka lebih baik saya mendapatkan apa yang mestinya saya butuhkan, istirahat di rumah-Nya.

Buat orang-orang yang selalu memberi saya senyum setiap hari, terutama siswa-siswa saya di kelas, maaf bila saya selalu mereporkan kalian dan membuat kalian khawatir untuk hari ini. Jangan khawatir lagi yach, saya sudah senang kok dengan apa yang kalian berikan buat saya. Oh iya Ray, kamu yang selalu menunggu saya bila saya belum hadir dikelas, kamu yang selalu membawakan buku saya ketika akan masuk kelas, dan kamu pula yang selalu saya repootkan untuk urusan dikelas. Saya sadar bahwa akan banyak cerita tentang diri kamu yang akan ditulis oleh orang lain. Karena kamu termasuk orang dengan keistimewaan. Termasuk pada diri saya, kamu adalah salah satu siswa yang saya anggap istimewa. Semoga kalian semua menjadi siwswa yang sukses dunia akhirat.

Dan terakhir sebelum saya selesaikan tulisan ini, saya hanya mau mengucapkan TERIMA KASIH UNTUK SEMUANYA. Maaf bila segala yang kalian berikan belum bisa saya balas.  Hanya sebuah do’a yang selalu ada dalam hati saya, Semoga Allah SWT. Membalas kebaikan yang kalian berikan kepada saya, dengan kebaikan yang lebih indah.”

 

Untuk diri saya sendiri, maaf mungkin waktu saya sudah tidak banyak dan harus berakhir.

 

 

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s