Aku, Kamu, Dia, dan Kenangan Indah (Cerita di Ujung Senja II)

AKU, KAMU, DIA, DAN KENANGAN INDAH

(CERITA DI UJUNG SENJA II)

Hari belumlah siang, senyum sang mentari baru sepenggalah menghangatkan lapangan tempat dimana seluruh siswa berdiri dibawah selembar kain berwarna merah dan putih, yang menjadi satu kesatuan utuh, dan kibarannya sebagai bukti bahwa negeri ini sudah meredeka, katanya. Senyum sang mentari yang menjadi saksi dimana tujuh hari yang lalu, sang guru pergi bersama beberapa kenangan manis yang pernah ada. Kenangan manis yang masih terbayang, kata-kata manis yang masih terngiang, dan senyum manis yang masih terlihat dengan jelas, walau hanya sebatas bayang. Senyum yang tujuh hari yang lalu masih ada dan meramaikan suasana ruang kelas dilantai dua, diujung lorong tiga ruang dari ruang guru, dengan tembok berwarna abu-abu, ruang kelas berukuran empat kali empat meter, dimana dindingnya yang abu-abu ramai dengan gambar pahlawan dan beberapa karya tangan siswa dikelas itu. Dan satu hal yang menambah sunyi ruang kelas itu hari ini, karena di dinding bagian depan kelas persis di belakang meja guru, ada tambahan gambar disana, tambahan gambar yang bila melihatnya kenangan manis dan suara canda penuh makna kembali terngiang, ya gambar sang guru idealis yang selalu narsis, namun penuh kasih sayang kepada semua siswa, yang kata-kata dan perhatiannya dapat menghilangkan segala tangis, fhoto berukuran 10R, yang berbingkai hitam, gambar Pak Guru Sena.

Hari yang begitu cerah diluar sana, seperti dua dunia yang berkebalikan seratus delapan puluh derajat dengan ruang kelas itu. Hanya sunyi, hening, dan beberapa cakap siswa dari kelas tetangga yang terdengar. Baris ketiga, shaf ketiga dari pintu kelas, nampak seorang siswa putri termenung dan terdiam. Dengan mata yang sesekali seperti mengeluarkan airmata, dan sesekali tertunduk penuh ratap. Serorang siswa yang begitu dekat dengan sang guru yang telha pergi untuk selama-lamanya, dan seroang siswa yang merasakan kasih sayang dan perhatian dari sang guru melebihi apa yang diberikan sang guru kepada siswa yang lain, seorang siswa pintar, cantik, punya wibawa dikelas, Rayendra Putri Pramodawardhani, Ray Sang Ketua Kelas.

“Assalamu’alaikum….”. Seorang ibu guru mengucapkan salam dan masuk ke ruang kelas tersebut, dimana sang ketua kelas masih dengan ketertundukan dirinya akan kejadian tujuh hari yang lalu. Seorang guru yang memang cukup dekat dengan sang guru yang telah pergi, dan seorang ibu guru jyga yang tahu keadaan dan kedekatan para siswa dikelas itu dengan sang guru idealis. Ibu guru Tia, Tiara Prameswari, begitulah anak-anak mengenalnya.

“Wa’alaikumsalam…”. Serentak siswa menjawab salam ibu guru. Kemudian sang ibu guru itu mendekati tempat duduk Ray yang masih tertunduk di mejanya.

“Ray…., bisa ikut ibu gak ke ruang guru sebentar. Ada yang mau ibu bicarakan sama kamu da nada yang mau ibu sampaikan juga sama kamu.” Bu Tia memulai pembicaraan. Sedangkan siswa yang lain, hanya terdiam dan beberapa saja yang mencoba mengusir kesedihan mereka dengan membaca dan menulis curahan hatinya di buku, seperti yang pernah disamapikan oleh Sang guru idealis, “Bila kalian ada masalah, apapun itu, jangan pernah lari dari masalah, berusaha untuk menyelesaikannya sendiri. Karena bagaimanapun, segala macam masalah dan kesedihan itu ada, dan diciptakan agar kita dapat lebih bijak dan dewasa dalam menyelesaikannya. Bila kita tidak sanggup untuk menanggung beban itu sendiri, maka berbagilah dengan orang-orang disekitar kalian yang dapat anda percayai. Tapi, bila memang kalian belum bisa mempercayai orang tersebut termasuk sahabat kalian sendiri, maka cukuplah selembar kertas dan sebatang pena menjadi curahan hati kalian. Luapkan segala amarah, tangis, kesedihan, kekesalan, dan semua beban disana. Walau itu mungkin tidak menyelesaikan permasalahan yang ada, setidaknya beban permasalahan yang ada bisa berkurang dan kita semua dapat lebih berpikir jernih dalam menyelesaikan semua masalah yang sedang terjadi.” Itulah yang mereka tahu dari Sang Guru Idealis.

“Bu… Tia…? Maaf bu, Ray masih seperti ini karena…”

Belum selesai Ray bicara, Bu Tia memotong dan memberi pengertian kepada Ray.

“Ibu faham kok Ray. Apa yang yang kamu rasakan atas kepergiannya, walau mungkin tidak sama dan tidak se terpukulnya kamu, ibu juga merasakan. Dan maksud ibu kesini, bahwa ada yang mau ibu sampaikan ke Ray. Ini ada kaitannya dengan Pak Sena, tapi ibu harap tidak dikelas, makanya ibu mau ajak kamu ke ruangan ibu sebentar.”

“Apa bu… Tentang Pak Sena? Apa saya tidak salah denger.” Ray memastika informasi itu.

“Ibu pastikan itu Ray. Ini tentang dia, tentang Pak Sena. Ayo.” Bu Tia mengajak Ray.

“Iya Bu. Citra, Ray ikut Bu Tia dulu. Makasih yach Citra selalu nemenin Ray dan selalu jadi sandaran Ray kalo lagi sedih gini.” Ray berpamitan sama teman semejanya.

“Iya Ray sayang. Kan Ray juga yang ngajarin Citra, kalo teman dan sahabat kita lagi sedih, walau kita tidak bisa menyelesaikan maslahnya, minimal dengan mendengarkan dan menemaninya, Insya Allah, beban yang tanggung itu bisa berkurang. Dan Ray juga kalo Citra lagi sedih, selalu ada disamping Citra.” Citra mengiyakan dan membenarkan apa yang mereka lakukan, walau sebenarnya itu juga karena Citra belajar dari Ray.

“Tapi, itu semua dari Pak Sena. Pak Sena yang ngajarin Ray…”

Ray dan Bu Tia melangkah dan meninggalkan ruang kelas. Dan bila di perhatikan dari belakang, Ray dan Bu Tia seperti dua wanita yang sama hanya beda usia. Baik, cantik, berwibawa, dan seorang wanita yang bisa menjadikan panutan dan contoh buat wanita lain. Sosok seorang ibu yang akan bisa mendidik anak-anak untuk memajukan negeri ini yang katanya sudah merdeka, agar lebih hebat lagi.

****

 

Hari ini memang bertepatan dengan tujuh hari atau seminggu kepergian sang guru idealis. Walau sang guru idealis yang narsis itu bukanlah guru senior, namun sikap dan keakrabannya dengan sesama guru dan siswa, menjadikan kepergiannya seperti ada sesuatu yang hilang. Bukan hanya kelas dan siswa, ruang guru yang dua minggu yang lalu masih terasa hangat dengan gelak tawa dan canda, tujuh hari ini juga terada seperti sepi dan dingin. Ray dan Bu Tia memasuki ruangan yang dingin dan sepi itu. Nampak beberapa orang guru yang sedang duduk karena tidak ada jam mengajar, hanya tersenyum sesaat kepada mereka berdua, ketika Ray dan Bu Tia memasuki ruangan itu. Mereka berjalan menuju meja Bu Tia, agak belakang dan terhalang beberapa meja guru yang lain dan satu buah lemari besi tempat menyimpan data guru.

“Silahkan duduk Ray.” Bu Tia mempersilahkan duduk Ray dan memulai pembicaraan.

“Ibu tahu kamu masih sedih, sedang merasakan kehilangan orang yang selalu memberi perhatian dan kasih sayangnya. Baik sebagai seorang guru terhadap siswa, maupun kasih sayang dan perhatian seorang sahabat kepada temannya. Apalagi perhatian yang dia berikan buat kamu sebagai seorang laki-laki kepada perempuan, walau tidak lama juga pernnah ibu rasakan. Kamu sendiri kan yang awalnya memberitahukan pada ibu bahwa ada seorang guru laki-laki yang sepertinya cocok dengan ibu. Sebelumnya ibu ucapkan terima kasih atas apa yang Ray lakukan terhadap ibu. Namun, lepas dari apa yang terjadi antara ibu dan Pak Sena dahulu, biarlah itu semua menjadi kenangan manis antara ibu dan beliau, yaa walau tidak lama, namun kenagna manis itu akan ibu simpan dalam-dalam. Dan maksud ibu memanggil kamu kesini, terkait dengan kepergian beliau, sebenarnya apa yang kamu rasakan kepada beliau, apakah sama seperti apa yang ibu rasakan dahulu?”.

Dengan penjelasan seperti itu, Ray pun terperanjat dan kaget. Karena seperti ada kalimat penghakiman dari Bu Tia. Walau sebenarnya Ray tahu bahwa Bu Tia adalah sosok guru yang sama dengan Pak Sena. Selalu memberi perhatian dan kasih sayang lebih terhadap siswanya.

“Mungkin memang Ray salah bu. Tidak sepantasnya ada perasaan ini. Karena Ray juga tahu bahwa perasaan ini bukanlah sekedar perasaan antara siswa terhadap gurunya, melainkan perasaan seorang perempuan yang belum pernah mendapatkan kasih sayang dan perhatian, kemudian hal itu memang dia dapatkan dari seorang guru yang memang pada kenyataanya baik. Ray juga tidak tahu kapan perasaan itu muncul, tapi Ray juga tidak mau dibilang sebagai perusak hubungan Ibu dengan Pak Sena dahulu. Dan…”.

“Gak ko Ray…”. Bu Tia memotong.

“Gak ada yang salah kok dengan perasaan kamu. Ibu dan Pak Sena memang tidak untuk ditakdirkan bersama. Tapi kenangan manis yang pernah ada, sudah menjadikan dan mengajarkan ibu lebih dari cukup untuk melanjutkan hidup, karena memang sebenarnya, ibu yang salah kok dalam hubungan yang pernah terjadi itu. Tapi, biarlah, yang lalu biarkan berlalu. Tapi ibu gak mau lihat kamu seperti ini. Makanya ibu panggil kamu dan mau minta penjelasan saja. Karena ibu yakin kok, Pak Sena juga gak mau melihat kamu seperti ini.” Bu Tia meyakinkan Ray.

“Iya bu. Tapi, untuk saat ini Ray memang merasa kehilangan sekali bu. Karena memang, dialah yang selalu memotivasi Ray, dia yang menjadikan Ray sebagai seorang kuat bila ada masalah, dan dia juga yang mengajarkan Ray untuk bisa memotivasi teman-teman dikelas.”

“Baiklah. Apapun yang terjadi dengan Ray, ibu berharap kamu tidak sungkan untuk berbagi dengan ibu. Dan ibu sangat yakin kok, Pak Sena tidak mau melihat Ray menjadi lemah. Karena memang jauh sebelum ibu mengenal beliau, dan ketika kami memiliki hubungan isngkat juga, Pak Sena tahu bahwa kamu adalah seorang siswa yang kuat dan bisa memotivasi diri. Dan maaf, bukannya ibu lancang, tapi jujur bahwa apa yang ibu temukan ini belum ibu kethaui apa isinya. Termasuk guru yang lain juga. Ibu janji tidak ada satupun yang tahu isi dari ini semua.”

Sambil bicara, bu Tia menyodorkan selembar amplop coklat kecil kepada Ray.

“Ini ibu temukan dua hari yang lalu. Ketika ibu mau membereskan bukunya pak Sena, ibu mengangkat tumpukan makalah yang kalian bikin dan kumpulkan sebagai tugas. Tapi ibu juga tidak tahu, tiba-tiba amplop itu meluncur dan jatuh di kaki ibu. Nich, buat Ray. Ambil lah.”

Dengan tangan gemetar Ray pun menerima ampol coklat kecil itu. Sebuah amplop kecil warna coklat yang mungkin berukuran sepuluh kali lima belas centimeter, dimana dibagian amplop tersebut, tepatnya pojok kanan atas tertulis dengan jelas, “Buat Sahabatku, Inspirasiku, dan Teman berbagiku : Rayendra Putri Pramodawardhani.”

Walau belum belum membaca apa yang ada dalam isi amplop itu, Ray nampak begitu sedih dan haru. Dan tanpa sadar beberapa butir mutiara bening mengalir di pipi  sang ketua kelas tersebut. Suasana pun kini bertambah hening, karena Bu Tia yang sedari tadi bicara pun, kini hanya terdiam dan hanya dapat melihat dan merasakan kesedihan dan haru seperti apa yang dirasakan oleh sang ketua kelas, Ray.

****

“Bila cinta memanggilmu, kau ikuti kemana ia pergi. Walau jalan terjal berliku, walau perih selalu menunggu. Cintamu butakan matamu dan hatimu, harusnya cintamu buka pintu kalbumu. Cinta adalah misteri, kita hanya manusia. Tak berdaya melawan, Taqdir Sang Raja Manusia. Jika sayapnya merangkulmu, pisautajamnya melukaimu. Cintamu butakan matamu dan hatimu, harusnya cintamu buka pintu kalbumu. Cinta adalah misteri, kita hanya manusia. Tak berdaya melawan, Taqdir Sang Raja Manusia.”

Senandung lagu “Cinta Adalah Misteri” yang didendangkan oleh Band Dewa, mengiringi senja yang mulai tertidur dan berganti malam. Dan gerimis pun belum berhenti sejak selepas ashar sore tadi, walau memang hanya titik-titik kecil bahkan terkesan halus yang jatuh kebumi, namun seperti kesedihan sang langit yang melepas segala kegundahan dan kegelisahan agar bebannya tidak terlalu berat. Gerimis yang selalu membuat hati manusia enggan untuk beranjak dari suatu tempat yang sedang didiaminya. Gerimis seperti kabut tipis yang perlahan menutup cahaya, lebar demi lembar benang beningnya, menambah senja yang seharusnya masih terang, kini terlihat cukup gelap dan bahkan terkesan lebih kelam.

Secangkir kopi yang diseduh setelah sholat maghrib, masih terasa kehangatannya, bahkan masih bisa dikatakan panas. Berdiri tegak diatas meja kerja, mengeluarkan uap dan aroma kehangatan penuh kasih bagi penikmat kopi. Sena, sosok guru idelais yang begitu narsis, menyalahkan personal computer-nya. Sambil menunggu loading, dia beranjak menghampiri tas-nya, kemudian membuka tas tersebut, dan mengambil beberapa berkas yang harus dia kerjakan. Dia pun kembali duduk didepan PC-nya, membuka beberapa file yang coba dia selesaikan dengan menyamakan berkas yang dia pegang.

“Tuut….tuut….tuut….tuut.”

Selular milik Sena berbunyi, ada sebuah pesan masuk. Sejurus kemudian tangannya mengambil handphone tersebut. Dengan agak terkejut dan sambil mengerutkan dahi dia membaca pesan tersebut. Dia cukup terkejut, karena memang setelah mengakhiri hubungan dengan Ibu Tia, jarang sekali dia mendapat pesan setelah magrib. Kini dia mendapat pesan kembali, namun pesan itu dari seorang siswa yang memang dekat dengannya, Ray. Sebuah pesan dari Ray yang membuat dia menghentikan aktivitas yang baru saja akan dia mulai.

“Pak, Ray sedang ada di dekat sekolah. Ray lagi butuh orang untuk berbagi. Dirumah lagi kacau pak. Please, cuma bapak yang bisa Ray percaya saat ini.”

Tanpa membalas pesan tersebut, Sena langsung menelpon balik Ray. Dan setelah tersambung, Sena pun bicara.

“Hallo Ray, kamu gak apa-apa?. Tunggu yach, saya berangkat sekarang.” Tanya Sena.

Terdengar dari handphone Sena, ada jawaban yang diringi dengan suara tangisan, tangisan seorang siswa yang sedang di rundung masalah. “Iya pak, makasih. Ray udah gak kuat lagi menanggung masalah ini semua sendiri pak.” Dan pembicaraan itupun dihentikan.

Sena pun bergegas mematikan komputernya, kemudian meninggalkan pekerjaannya untuk menemui seseorang yang memang sedang lagi bantuan atas permasalahannya yang sedang dihadapi. Dia keluarkan kembali sepeda motor kesayangannya yang sebetulnya telah dia bersihkan sore tadi sebelum gerimis menemani senja. Dikenakan jacket hitamnya, dia ambil helm dan dia panasi sebentar sepeda motor yang mungkin agak kedinginnya setelah dia mandikan sore tadi.

“Mau kemana Sen?” tiba-tiba Tanya sang Ibu kepadanya.

“Ehh…. Ini bu, ada keperluan di sekolah. Urusan siswa.” Jawab Sena.

“Memang tidak bisa ditunda apa? Kan lagi gerimis, kalo nanti hujan gimana, bisa sakit kamu.” Kembali sang ibu bertanya.

“Wah, sepertinya memang tidak bisa diwakili bu. Harus Sena yang datang. Kalopun hujan, gak usah khawatir, Sena udah siapin jas hujan kok biar gak kehujanan dan gak sakit.” Sanggah Sena.

“Yow is, hati-hati. Jangan lupa kabarin ibu kalo pulangnya agak malem.” Kata sang ibu.

“Pasti bu. Terima kasih untuk kekhawatiran Ibu. Tapi kalo pun Sena pulang larut, dan ibu mau tidur, tidur saja gak apa-apa, Sena bawa kunci kamar kok, nanti motor dan Sena lewat smaping aja masuk kamar.”

“Sena berangkat bu, Assalamu’alaikum…” tutup Sena.

“Wa’alaikumsalam.” Jawab sang ibu mengiringi kepergian Sena.

****

Gerimis masih saja belum berhenti, laju sepeda motor dengan deru mesin yang semakin menjadi, memecah kesunyian jalan malam itu. Walau sang waktu baru menunjukan pukul delapan belas lebih lima belas menit pada jam tangan Sena, namun keadaan jalan cukup sepi dan sunyi. Mungkin karena kondisi gerimis dan kabut tipis yang membuat manusia enggan untuk beranjak dari tempat tinggalnya.

Tidak sampai dua puluh menit, Sena telah sampai di dekat sekolah. Dimana seorang siswa, tepatnya seorang gadis telah menunggu kedatangannya. Masih dengan udara yang cukup dingin dan beberapa lebar kabut tipis menyelimuti sebagian kota ini. Nampak sosok seorang gadis itu perlahan jelas, dan setelah sepeda motor Sena berhenti, gadis itu pun menghampiri nya. Dan tidak salah lagi, gadis itu adalah seorang siswa yang begitu dekat dengannya, Rayendra Putri Pramodawardhani, Ray Sang Ketua Kelas. Dan dengan mata yang seperti sembab, Ray pun kemudian  bicara langsung dengan Sena.

“Makasih ya pak sudah mau datang menuin Ray. Sebetulnya Ray malu bila harus merepotkan bapak, tapi untuk saat ini, hanya bapak yang bisa Ray percaya buuat bantu Ray.”

“Gak apa-apa Ray, kamu gak ngerepotin kok. Dan gak usah malu juga. Karena saya pernah bilang bahwa, bila ada masalah dengan kehidupan apapun itu, coba untuk diselesaikan sendiri, dan bilapun tidak sanggup, maka tidak ada salahnya untuk berbagi dengan orang lain yang sekiranya dapat dipercaya. Dan bila memang untuk saat ini, Ray mempercayakan hal itu kepada saya, sebetulnya saya yang berterima kasih. Karena setidaknya kehidupan saya bisa berguna buat orang lain, walaupun itu hanya sebatas menjadi pendengar saja.” Jawab Sena.

“Iya pak, tapi memang di rumah lagi kacau. Bahkan dengan hal yang terjadi, Ray sudah gak percaya lagi sama orang rumah, bahkan benci.” Ray melanjutkan.

“Nanti dulu. Ray mau cerita disini saja atau dimana? Dan sepertinya kalau kamu sms tadi tidak lama setelah magrib, kemudian sekarang kamu sudah disini, saya tidak yakin Ray sudah sholat. Alangkah baiknya Ray sholat magrib dahulu, biar apa yang terucap nanti bisa lebih baik dan Ray bisa berpikir lebih tenang dan lebih jernih. Kita cari mushola dulu yach, mumpung masih ada waktu untuk sholat magrib.” Sena memotong pembicaraan Ray.

Dan dengan ajakan dari sang guru idealis itu, Ray pun hanya bisa mengangguk sebagai tanda mengiyakan bahwa dia belum sholat, kemudian Ray ikut naik motor yang di bawa Sena. Mereka berdua pun kini bergegas mencari mushola untuk Ray melaksanakan sholat maghrib. Dan lima menit kemudian, mereka sampai di depan sebuah mushola yang memang tidak begitu besar, namun terasa begitu nyaman. Sena pun menghentikan dan mematikan mesin sepeda motornya.

“Sholat magrib dulu yach. Saya tunggu di depan sini saja.” Kata Sena.

Ray tiba-tiba hanya terdiam, kemudian mengangguk dan berjalan menuju pintu mushola untuk berwudhu dan melaksanakan sholat.

Hampir sepuluh menitan Ray sholat kemudian dzikir dan berdo’a. Dan ketika Ray keluar mushola, nampak Sena sedang berbicara dengan seorang laki-laki tua yang sudah sepuh. Kemudian mengakhiri pembicaraan itu, terdengar Sena mengucapkan terima kasih kepada lelaki tua itu. “Terima kasih ya Pak atas waktu dan sarannya.”

Lantas lelaki tua itu pun pergi meninggalkan mereka. Sena kembali mendekati Ray yang telah selesai sholat, dan sebelum Sena sempat duduk di pinggir mushola tersebut, Ray bertanya. “Siapa pak lelaki tadi? Bapak kenal dengan lelaki itu.”

“Owh…, lelaki itu yang ngurusin mushola ini. Dia mau pulang, rumahnya aja di sebelah mushola ini. Dan saya tadi cuma mau ijin aja untuk duduk di mushola ini beberapa menit atau jam, mau membicarakan permasalahan Ray. Karena lebih nyaman dan enak serta terasa lebih tenang bila kita ada dilingkungan rumah Allah ini. Silahkan dimulai saja pembicaraannya, kenapa Ray tiba-tiba ada di dekat sekolah dan ngasih pesan sama saya untuk dating dan sebenarnya memang ada permasalahan apa?” Sena menjawab kemudian bertanya pada Ray.

Ray pun menjawab dan meceritakan permasalahannya.

“Dirumah lagi kacau pak. Ayah sama Ibu tiri saya lagi berantem. Saya juga gak tahu mereka berantem karena apa, tapi tiba-tiba saja mereka berantem begitu kerasnya. Sampe banting ini dan itu yang ada dirumah. Adik tiri saya nangis ketakutan, dan yang bikin saya benci adalah, walau adik tiri saya yang berusia lima tahun itu nangis ketakutan, ayah maupun ibu tiri saya tidak menghentikan berantemnya. Mereka seakan tidak peduli dengan orang-orang yang ada disekitar mereka. Mereka hanya mementingkan ego masing-masing aja. Dan akhirnya adik tiri saya saya gendong dan saya titip dirumah nenek, dua rumah dari rumah saya. Dan saya langsung pergi dari rumah kemudian akhirnya sama kirim pesan ke bapak. Dan memang ini bukan kejadian yang pertama pak, sudah sering. Makanya terkadang saya agak murung dikelas dan gak bisa ngikutin pelajaran dengan maksimal, ya sebabnya adlah karena memang dirumah gak nyaman sama sekali. Saya justru lebih nyaman di sekolah, ada Pak Sena, bu Tia dan beberapa teman-teman yang selalu ngasih perhatian dan kasih sayang sama Ray. Dirumah itu semua gak Ray dapatkan. Hal itu Ray rasakan mungkin empat tahun yang lalu, ketika masih ada Ibu kandung Ray.”

Ray pun kini kembali meneteskan airmata, teringat akan sang ibu yang sektiar empat tahun yang lalu telah meniggalkannya menghadap Allah SWT karena sakit yang secara tiba-tiba datang kemudian merenggut nyawanya. Dalam tangisnya, Ray pun melanjutkan ceritanya.

“Dan dari apa yang Ray alami, untuk saat ini hanya Pak Sena yang bisa Ray percaya. Karena bapak juga yang selalu mengajarkan Ray ketika ada masalah, dan selalu ada buat Ray ketika Ray butuh seseorang untuk berbagi. Memang banyak orang yang Ray kenal, termasuk teman dan sahabat serta saudara, tapi mereka ya hanya sebatas teman, sebatas sahabat, dan sebatas saudara, gak lebih dari itu semua. Sedangkan bapak, sudah seperti seorang yang lebih dair itu semua, mungkin kalo bapak adalah seorang perempuan, sudah akan Ray anggap seperti ibu Ray sendiri.” Kata Ray.

“Ray….Ray…., sebelumnya terima kasih untuk kepercayaan yang kamu berikan kepada saya. Tapi yang perlu Ray ketahui adalah bahwa tidak akan ada orang tua yang tidak sayang dengan anaknya. Untuk saat ini memang ibu tidak ada disamping Ray dan hanya ada dihati Ray, tapi saya yakin ayah kamu juga sayang sama kamu. Mungkin untuk saat ini kasih sayang dari ayah tidak terlihat, karena bisa saja memang kasih sayang itu terbagi antara anak, keluarga dan pekerjaan, tapi diluar itu semua, saya yakin ayah sangat sayang sekali sama Ray. Dan bila hari ini ada semacam hal  yang memang membuat kamu benci sama ayah dan ibu tiri kamu, saya berharap hal itu tidak Ray lanjutkan, karena sebuah kebencin itu tidak akan pernah ada baiknya. Sekarang pun, saya yakin mereka sedang memikirkan dan mengkhawatirkan anak gadisnya, yang pergi entah kemana karena kepergiannya memang akibat ulah mereka, dan mungkin sekarang mereka sedang menuggu kamu dirumah atau sedang pusing meikirkan kamu Ray. Ibu tiri katanya memang lebih kejam dari ibu kandung, tapi tidak semua ibu tiri seperti itu, karena mereka juga memiliki anak yang pada dasarnya semua naak harus mendapat kasih sayang yang sama. Dan saya, untuk saat ini memang saya bisa ada buat kamu, karena memang saya sedang tidak ada kesibukan yang terlalu, tapi memang saya belum bisa janji akan selalu ada. Tapi kalau ayah kamu, bagaimanapun kesibukannya, pasti akan selalu mengkhawatirkan kamu Ray.” Sena menjelaskan kondisi yang mungkin terjadi saat ini.

“Terus apa yang harus Ray lakukan pak?” Tanya Ray.

“Kalau memang pikiran dan keadaan Ray sudah baikkan, ada baiknya Ray pulang. Kasihan ayah sama ibu dirumah pasti khawatir.” Jawab Sena.

“Ya Insya Allah sudah baikkan sich pak.” Ray memastikan.

“Ya sudah, kalau begitu berhubung kamu anak gadis, dan sudah agak malam juga, gak enak kalo pulang sendirian dan naik angkot pula. Jujur saat ini, saya yang lebih khawatir sebelum kamu sampai rumah, jadi saya akan antar kamu pulang, gimana?” Sena bertanya.

“Kok harus diantar pak. Ray jadi gak enak loch sama bapak.” Ray menjawab.

“Ya kalo memang sudah gak mau lagi saya bantu ketika ada masalah, mungkin sekarang gak mau juga gak apa-apa. Tapi kalo memang masih ingin dibantu ketika ada masalah, dan anggap ini sebagai ucapan terima kasih saya atas kepercayaan kamu, alangkah baiknya Ray untuk bilang Iya.” Kata Sena.

“Waduh, kenapa jadi terkesan mengancam yach bapak guru saya ini. Ya baiklah kalo begitu. Kan bapak juga yang mengajarkan sama Ray, bahwa kalo ada orang yang mau berbuat baik, masa sich niat baik orang tersebut harus ditolak.” Jawab Ray sambil senyum. Dan senyuman ini menandakan bahwa memang kondisi Ray sudah agak baikan.

“Oke kalo begitu. Mari saya antar kamu Ray.”

Mereka pun akhirnya meninggalkan mushola. Kemudian, Sena menyalakan sepeda motornya untuk berangkat mengantarkan Ray pulang kerumahnya. Mesin motorpun kembali menderu, memecah keheningan dan dinginnya malam pada salah satu jalan ibu kota. Dan dalam perjalanan itu, Ray kembali mengucapkan terima kasih kepada Sena.

“Pak terima kasih yach, bapak sudah mau mengorbankan waktu bapak buat Ray. Padahal Ray tahu bahwa bapak lagi banyak kerjaan. Terima kasih untuk kasih sayang dan perhatian bapak kepada Ray. Dan, bila diperkenankan, Ray mau minta satu hal lagi sama bapak, karena perhatian dan kasih sayang bapak sudah seperti ibu kandung Ray, sudah lama Ray tidak merasakan kehangatan seorang ibu, tapi mungkin ini memang tidak pantas.” Ray sejenak berhenti bicara.

“Ada apa Ray?” Tanya Sena.

“Boleh Ray peluk bapak?” Ray mengutarakan maksudnya.

Dan tanapa jawaban secara lisan, Sena hanya mengiyakan permohonan dan permintaan Ray itu dengan mengangguk.

Malam pun menjadi saksi bahwa perhatian dan kasih sayang kita dapatkan tidak harus dari orang yang memeiliki hubungan darah dengan kita. Tapi setiap orang siapapun itu, pasti memiliki sisi positif dan negative, dan ketika kita bisa memunculkan sisi positif itu, maka bukan menjadi sebuah kemungkinan lagi bila orang lain pun dapat menjadi orang terdekat buat kita.

****

“Kenapa kamu menangis Ray?” Tanya bu Tia.

Suara bu Tia menyadarkan Ray, bahwa orang yang dahulu sangat peduli dengan dia, yang kepeduliannya sama dengan ibu kandungnya, kini juga telah pergi. Tapi ternyata, tangis yang kini dilihat bu Tia pada Ray, bukalah sebuah tangis duka dan kesedihan, melainkan tangis keberanian, tangis ketegaran, dan sebuah tangis kebahagiaan karena kini Ray bisa melepaskan dan merelakan Pak Sena.

“Oh… gak bu. Sekarang Ray sudah bisa kuat kok bu. Tangis ini bukanlah tangis kesedihan lagi. Tapi, setelah Ray baca surat ini, Ray tahu bahwa Pak Sena mungkin sudah tahu bahwa waktunya untuk ada bersama kita tidak lama, tapi kalau pun memang itu benar, dan kini telah terjadi, Pak Sena bilang ~“Buat saya, perubahan itu PERLU dan HARUS, karena waktu akan terus berjalan tanpa mau menunggu diri saya yang hanya diam dan tak berubah.”~ jadi waktu gak bakal menunggu kita, dia akan terus berjalan. Bila kita mau, maka kita harus mengikuti waktu, dan harus berubah, tidak bisa kita mengikuti waktu tanpa sebuah perubahan. Oh iya bu, ibu harus baca surat ini juga, karena Pak Sena juga nitip salam buat Ibu Tia.” Ray pun menyodorkan surat itu kepada bu Tia.

Kemudian Ibu guru Tia, seorang yang pernah dekat dengan Pak Sena, menerima surat dari Ray, kemudian membaca surat itu.

Salam teriring do’a selalu terucap dariku untuk kalian para permpuan hebat yang selalu mengganggu pikiranku dan menjadi inspirasi setiap langkah dan karyaku. Dan bila kalian membaca ini, maka tersenyumlah kepada surat ini, karena dengan tersenyum, maka sesungguhnya aku menerima senyum dan merasakan senyum indah kalian, walau mungkin aku sudah tidak bisa bersama kalian lagi.

Surat ini sebenarnya saya buat jauh sebelum hari ini, mungkin sekitar tiga bulan sebelum hari dimana saya pergi. Tepatnya ketika saya pergi ke seorang dokter yang mengerti tentang gelaja yang yang saya alami pada bagian belakang kepala saya, dan ketika dokter itu sampaikan bahwa, saya memiliki penyakit yang sampai saat ini belum ada obatnya serta belum bisa ditangani, kemudian bahwa usia saya hanya tinggal sekitar tiga bulan lagi, maka saya pun menulis surat ini. Dan permohonan maaf bila dalam surat terakhir saya, saya belum bisa menyampaikan dengan benar apa yang terjadi dengan saya, karena pada surat saya terakhir tersebut, saya tidak sampaikan apa yang saya derita, dan belum sempat juga bilang bahwa dokter sebetulnya telah mengatakan kepada saya bahwa usia saya memang tinggal tiga bulan lagi.

Tapi, yang akan saya katakan pada surat ini bukanlah tentang penyakit yang saya derita, karena itu sudah saya anggap sebagai sebuah suratan taqdir.

Dalam surat ini saya ingin menyampaikan pertama, untuk Siswa Terbaikku, yang selalu merepotkan saya bila ada permasalahan, namun selalu bisa buat saya tersenyum dengan canda dan keindahannya, buat kamu Ray. Rayendra Putri Pramodawardhani. Saya yakin bila kamu membaca surat ini, pasti Ray masih sedih atas kepergian saya, tapi saya tidak ingin kamu bersedih, karena kesedihan kamu justru membuat perjalanan saya akan terasa berat, jadi saya mohon untuk tetap tersenyum dan tegar menghadapi kehidupan ini. Kehidupan dan keadaan mungkin akan berubah, maka sebaiknya kita juga ikut berubah, karena waktu tidak mungkin akan menunggu kita yang hanya berdiam diri. Dan satu hal yang belum pernah saya samapai kan buat kamu Ray, terima kasih Siswaku Tersayang dan Dara ku Terkasih untuk pelukan hangat dimalam yang begitu dingin sepanjang perjalanan yang pernah kita lalui, ketika suasana rumahmu yang kacau, namun masih ada kehawatiran didalam rumah itu, yang bisa kita lihat bersama ketika smpai didepan gerbang rumah mu, dimana ayah dan ibu serta adikmu menunggu mu dengan penuh cemas dan harap. Walau memang itu tidak dapat kita ulangi bersama, setidaknya engkaulah Ray, yang menjadikanku kuat selama tiga bulan terakhir ini. Seklai lagi terima kasih, dan kamu harus selalu tersenyum dan kuat, karena saya akan selalu ada untukmu, dan berusaha untuk selalu ada disampingmu.

Dan buat serorang perempuan yang pernah menjadi bagian dari hidupku, ibu Tiara Prameswari. Maaf bila mungkin kata berpisah yang dahulu pernah terucap itu, harus dari mulut ku ini. Tidak ada maksud untuk menyakiti hati dan perasaan Tia, namun ini semua saya lakukan karena memang saya tahu, bahwa kehidupan saya tidak akan lama. Jadi mungkin akan lebih sakit bila hubungan itu kita lanjutkan, namun ketika sudah begitu erat, harus putus karena sebab sebuah taqdir kehidupan yang harus saya jalani terlebih dahulu, yaitu meniggal. Jadi, lebih baik saya akhiri saja. Tapi satu hal yang harus diketahui adalah bahwa engakulah perempuan pertama yang menjadikan saya bangga bisa memiliki seorang perempuan penuh perhatian dan bangga memeiliki seorang bidadari.

Dan buat kamu Tia, anggap ini persembahan terakhir yang belum saya sampaikan keadamu :

 

SEPUCUK KERINDUAN KEPADAMU

 

Kalaupun aku tulis surat sepucuk

Kepadamu untuk mengobati rindu

Yang merangkak ke sudut sanubari

Yang retak

Rasanya, tak`kan cukup kertas

Untuk menampung kata-kata yang kutuliskan

Karena mengungkapkan rindu yang

Terlunta-lunta jauh dari engkau

 

Itupun belum cukup

Masih kucoba mencari engkau digelas-gelas kaca

Yang kusengaja mencarinya disana

Dengan harapan bersua denganmu

Mengungkapkan hal yang sama

 

Disisi lain aku mengatakan kepada

Cintamu

Bahwa ini karunia Tuhan Yang Suci

Karena aku enggan berdusta barang sekata

Dan ini bukti

Cintanya aku bukan semata-mata

Tapi tak pantas bila dibandingakan dengan

Yang lain

 

Maka demikian,

Kalaupun aku tulis surat sepucuk

Kepadamu untuk mengobati rindu

Tak’kan cukup kertas surat itu untuk

Menampung kata-kataku.

 

Dan buat kalian berdua, Rayendra Putri Pramodawardhani dan Tiara Prameswari, tetaplah menjadi perempuan kuat dan tegar. Karena kehidupan mungkin akan lebih keras dari yang terjadi pada saat ini. Dan jangan jadikan kepergianku ini sebagai alasan untuk diam dan bersedih, diluar sana mungkin aka nada sosok Sena yang lain yang lebih baik dan lebih dapat diandalkan dari pada saya.

Saya akan selalu memperhatikan kalian, dan selalau tersenyum dan bahagiakanlah kehidupan kalian.

 

Terima kasih untuk segala kasih sayang dan cinta yang pernah ada.

Salam rindu dari kalbu yang terbelenggu,

Sena.

 

Tak terasa, hari kini beranjak senja. Kedua perempuan itu pun tersenyum bersama, namun dengan butiran-butiran airmata yang ada antara kebahagiaan dan ingatan akan canda yang pernah ada bersama dia, sang guru idelais penuh narsis, Sena.

TAMAT

3 Comments

  1. sungguh trkesan,tdk jauh dari pengalamanku.
    mengingat kn aku pd seorang guru yg pernh mnjdi kekasihku tp kini telah hilang dn pergi meninggakkn ku bersama kenangan indah yg ada yg menjadi luka dn ksedihan smpai detik ni tnpa da perubahan.
    krna aku masih mencintainya.

    PS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s