HANYA INI YANG KU PUNYA, MAAF AYAH, MAAF IBU…

1

 

 

 

 

 

 

 

 

 

HANYA INI YANG KU PUNYA, MAAF AYAH, MAAF IBU…

Deru kendaraan roda dua yang kupacu belumlah lama dan santer terdengar, mungkin mesin yang berada diantara kedua kakiku juga belum terlalu panas untuk membelah jalan sore ini, tapi entah mengapa, seperti ada alunan music bersama dengan semilir angin yang menyayat hatiku, ada perasaan lain yang membuatku ingin segera sampai pada rumah, pada sang bunda dan ayahku. Entah apa yang kini berada dipikiranku, kupacu lebih cepat kuda besiku, hingga kini derunya santer terdengar, dan terasa panas mesin yang berada di antara kedua kakiku. Makin terasa, ketika ku lewati keramaian, begitu banyak anak kecil yang sedang bersama bunda dan ayahnya, bercanda, tersenyum, bahkan berlari bersama. Hal yang sudah lama tak ku rasakan. Syair lagu yang kudengar pun semakin membuatku pilu, semakin membuat perasaan ini tak menentu, hingga tak tahu apakah aku bisa sampai pada satu waktu yang kutunggu. Bersujud di hadapan bundaku dan ayahandaku, seraya berkata “maafkan aku.”

Senja telah terbaring diufuk barat, menandakan hari ini akan segera berakhir dan sesaat menjemput malam yang kelam akan menyelimuti sepi yang sunyi. Kuhentikan kuda besiku di depan sebuah rumah sederhana bertiang tiga, tempat dimana ku dilahirkan, dibesarkan, dan disayang, tapi aku belum membalas semua itu. Tidak seperti biasanya, entah apa yang merasuki ku, kulihat begitu banyak peluh yang mengalir darinya, dari mereka, bunda dan ayahandaku tercinta, untuk kami para anak-anaknya. Banyak sekali kasih sayang yang telah dicurahkan kepada kami, dari kami dilahirkan hingga sampai pada saat ini, tapi kami belum bisa membalas itu semua, hanya kata maaf yang baru bisa kami ucapkan kepada mereka.

Kucoba menguasai hatiku, dan mencoba mendekati mereka yang sedang beristirahat dengan penuh rasa lelah yang mendera. Tak bisa kupungkiri, ada aliran butir-butir mutiara bening yang melewati pipiku. Terlalu berat langkahku untuk membangunkan mereka dari isitirahat sore ini. Dan ku coba menahan rasa ini, kucoba menahan deraian ini, dan kucoba untuk menenangkan diri dari perasaan ini. Karena tak mau aku mengganggu kenyamanan mereka sedang berisitirahat di senja yang indah, setelah berjuang melewati hari yang berat, untuk kami anak-anaknya.

Senjapun pergi, berganti malam yang penuh bintang dilangit, walau di hati ini ada kegelapan yang seperti perasaan bersalah kepada mereka. SeruanNYA pun memanggilku untuk sejenak melepas segala apa yang kupunya, walau sebenarnya tak bisa aku melepas perasaan bersalah itu. Kucoba menenangkan diri, ku ambil wudhu untuk melakanakan sholat magrib kali ini. Dan kucoba untuk khusyu dan melepas segala beban yang ku punya hari ini, di hadapanNYA.

“Allahu Akbar…….”

Belum selesai takbir kuucap, butiran mutiara bening, kembali mengalir di pipiku, bahkan lebih deras dari pada sekedar butiran tadi sore ketika ku lihat mereka. Sekuat tenaga kucoba menenangkan hati dan pikiranku agak ibadahku benar-benar untukNYA, tapi bayangan ayah bundaku, bayangan akan perjuangan mereka hingga membuatku seperti sekarang ini, tak bisa ku kendalikan. Dan dalam sholat ku, bayang mereka bersamaku, bersama sholatku. Walau kutahu, sebenarnya mereka sedang berada tidak jauh dariku, tetap terasa jauh karena perasaan bersalah yang kupunya pada mereka. Perasaan akan betapa bodohnya aku sebagai anak, perasaan betapa tak berbahktinya aku kepada mereka, karena sampai saat ini, belum bisa membahagiakan mereka.

Butir demi butir mutiara bening, derai demi derai kulalui dalam sholat ku kini. Dan bayang-bayang masa lalu akan perjuangan mereka hingga kini juga bersamaku di sholat magrib kali ini. Perjuangan berbeda yang kurasakan saat ini, sebuah perjuangan untuk beribadah khusyu tanpa adanya hal lain selain Tuhan, tapi tak dapat ku hindari juga perasaan akan hal itu.

“Asyahduallaa Illahailallah, wa asyhadu anna Muhammadarrasulullah….”

Sebuah kesaksian sejati yang membuatku selalu bertahan dalam waktu yang kujalani. Dan sebuah kesaksian sejati yang membuatku bertambah menderaikan air mata dalam akhir ibadahku.

“Assalalmu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh……”

“Assalalmu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh……”

Kuakhiri sholatku, dan masih dengan berjuta perasaan bersalah pada mereka. Disisi lain, ada perasaan bahwa tak ada ruang untukku didunia ini. Perasaan sendiri tanpa teman, peradaan sendiri tanpa sahabat. Hingga akhirnya hanya mereka yang kupunya. Kubangkit dari salam ku, mencoba menguatkan hati dan berusaha untuk tetap tegap menghadap mereka. Langkah demi langkah terasa berat menghampiri mereka. Langkah yang seolah sangat jauh untuk sampai pada mereka. Langkah yang menjadi saksi betapa ada seorang anak yang tak berbakti hanya punya kata maaf atas segala salahnya. Belum sampai dan belum kuat langkahku menghampiri mereka, satu suara telah membuatku tersungkur dihadapannya.

“Kamu kenapa Je…? Cape yach kerjaan hari ini, atau banyak hal lain yang kamu pikirkan. Jangan terlalu dipikirkan, karena kehidupan dan pekerjaan memang seperti itu. Makin tinggi suatu pohon, maka akan semakin banyak dan kencang angin yang akan menerjang. Kalo pohon itu tidak bisa bertahan dan menyesuaikan diri, maka pohon itu akan tumbang. Tapi, bila pohon itu tetap tegar dan kuat menahan angin, maka dia akan semakin tinggi dan akan bisa menyentuh langit.”

“Sini, duduk bareng sama ibu dan ayah,” kata ibuku.

“Sudah lama yach kamu gak duduk sama kami disini. Dari setiap keluarga yang ada, para anggota nya punya kesitimewaan tersendiri. Kamu yang mungkin jarang berada dirumah, hanya sepersekian jam berada dirumah, kemudian pergi lagi bersama malam yang kelam, dan ketika ayam berkokok kamu sudah di sebrang jalan, tapi tetap ada tempat isitmewa di keluarga ini, dan itu gak akan tergantikan. Termasuk dihati kami. Dari sekian saudara kamu, semua ada tempatnya sendiri-sendiri. Jadi jangan merasa bahwa kamu merasa terasing dirumah sendiri.” Betapa bijak, dan menguatkan hati yang mendengarnya. Ayahku yang sudah sangat lelah, tapi masih membuatku merasa sangat kuat.

Tak kuat ku menahan semua, dari begitu banyak yang sudah mereka beri padaku, begitu banyak waktu yang kupunya untuk dunia luar, tapi begitu banyak kasih sayang yang mereka berikan padaku. Sampai saat ini, saat dimana tak ada orang lain yang kupunya selain mereka. Mereka ada, dan selalu ada untukku.

Kembali berderai air mata ini… deraian penuh perasaan bersalah kepada mereka, kemudian tersungkurlah aku dihadapan mereka. Dan tak dapat kujawab apa yang mereka katakan. Hanya tangis dan permohonan maaf yang keluar dari bibirku.

“Maaf Pak, maaf Bu. Saya belum bisa memberi kebahagiaan sama Bapak dan Ibu, sampai saat ini. Dan saya juga tidak bisa janji apa saya bisa memberikan hal itu. Karena sepertinya kebahagiaan tak berpihak pada saya. Tapi saya akan berusaha mencari kebahagaiaan itu dan memberinya pada Bapak dan Ibu.”

Masih dengan air mata yang kupunya, terdengar sebaris kalimat yang membuatku kuat untuk melewati malam ini.

“Dengan kamu sudah sampai seperti saat ini saja, kami sebagai orang tua sudah merasa bahagia. Tak perlulah kau cari kebahagiaan lain untu kami, carilah kebahagiaan itu untuk kamu dan masa depanmu. Karena sekali lagi, kami sudah sangat bahagia melihat kamu seperti sekarang ini. Tetap jadi anak yang selalu tegar, seperti pohon tinggi yang kuat menahan terjangan angin. Dan satu hal yang paling kami bangga dan senang melihat kamu, bahwa apa yang kami harapkan ketika kamu waktu kecil, sekarang sudah kami lihat. Dan sedikit banyak, itu sudah membuat kami bahagia.” Kata mereka.

Dan malam pun ku lalui dengan penuh perasaan sedih bercampur bahagia atas apa yang kumiliki, atas apa yang kupunya, dan atas apa yang kuterima dari mereka.

“Terima kasih Pak…”

“Terima kasih Bu……”

 

Oleh: Jaeni Supratman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s