KALAU DEMIKIAN, TERIMA KASIH

b4d55-senja1

Terima kasih atas balasan surat yang engkau terakan untukku Jika memang itu isi hatimu seperti yang engkau wartakan, mungkin aku akan dapat bisa memahami panggilan jiwamu, yakni; Bersabar.

Tapi bila yang engkau terakan tidak sesuai dengan panggilan sanubarimu, itu adalah sebuah pengkhianatan atas jiwa raga; baik aku untukku, juga sekaliannya engkau. Sebab dengan begitu, Tuhan juga enggan menimbang baik untukmu kerana seratan yang engkau torehkan hanya sebuah kamuflase dan bayangan lentera Cina yang kurang mempesona, dan pesakitan atas aku jadi semakin kuat parahnya.

Kalau memang demikian hanya balasan agar aku kembali senyum kepadamu, berarti engaku telah membunuhku empat kali. Jika benar adanya bagaikan itu kau telah membuat terbitan sakitan baru kepadaku.

Kalau memang keinginanmu benar seperti yang aku sangkakan mengapa engkau rela berpusing berpusing-pusing tujuh keliling membuat persekutuan batin menerbitkan kebohongan baru.

Hal ini bukan berarti aku tidak mencintaimu. Tapi memang biasanya engkau seperti itu soal pintar menciptakan kehampaan hati engkau ukurannya. Bukan apa-apa sebab kalau engkau hendak menyakiti aku kembali usahlah engkau membalas-balas layangan warta yang aku buaikan kepadamu.

Ada ketakutanku, semua yang engaku lakukan hanya untuk menghiburku. Seolah-olah engkau cintakan aku. Padahal engkau dengan lain orang. Asyik masyuk, terlena, sibuk memadu kasih. Aku yang mematung menelan kembali pedih perih jauh, lebih dari tergurih. Perjanjian asmara yang kita ikrarkan di hadapan Tuhan hanya sebuah sandiwara yang kehabisan undangan cinta karena engkau berdusta pada dirimu beriring noda dan goda.

Aku torehkan syair dan surat ini kepadamu, bukan aku tak percaya kepada engkau tapi, semata-mata memang aku sangat mendamba engkau setulusnya jadi Syairku.

Dan bukan aku ragu atas kesetiaan kasih serta sayangmu. Ini aku lakukan karena semata-mata minta kepadamu dan jelas nyatanya aku sangat membanggakan terbitan cinta yang tulus dari sanubarimu.

Aku ingin engkau berserah diri berjalan seutuhnya tanpa ada sebuah lentera yang lain. Aku ingin engkau cinta yang molek (elok)Untukku, bukan kepada yang lain.

Ini nyata. Bahwa aku enggan kelain hati. Aku hanya ingin engkau seutuhnya bersama kasih Tuhan dan jangan sakiti guritan hati ini jika ada dusta terbitan baru, lebih baik kita tidak bersambung muka lagi.

Bekasi, April 2006; Jaeni Supratman; 03.29am wib

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s